Online Newsletter No : 01 – August 2016 (Bahasa Indonesia)

NEWSLETTER 01

cropped-Slide1-1.jpg JF Asia Center small

SAMBUTAN

GoroPics_new

Salam Sejahtera,

Penyelenggaraan The 4th JCCB, yang akan diselenggarakan pada 7 Desember 2016 hingga 22 Januari 2017, sangatlah berbeda. Karena dalam persiapannya dimulai dengan residensi para seniman di beberapa lokasi di kota Bandung, pulau Bali , Yogyakarta, Semarang dan Majalengka. Mereka masing-masing selama satu bulan berinteraksi dengan situasi lokal; baik secara sosial maupun secara budaya. Ada 21 seniman baik yang dari Internasional—dari berbagai Negara, maupun para seniman nasional, yang akan bekerja di lokasi-lokasi tersebut. Mulai dari desa kerajinan keramik, studio seniman, sekolah keramik hingga keramik Industri. JCCB-4 berkolaborasi dengan para tuan rumah residensi (host) yang mendukung kesuksesan program residensi. Tentunya minat besar para seniman juga menentukan.

Program residensi ini menjadi dasar yang akan dikembangkan untuk penyelenggaraan JCCB ke depan. Ada beberapa hal yang mendasari, antara lain: bahwa suatu bienal internasional seharusnya akan menjadi lebih menarik jika ada suatu bentuk interaksi antara para seniman dengan komunitas di mana seniman itu berada dalam suatu lokasi. Kedua, karya-karya yang diproduksi selama residensi lebih terasa kaitannya antara seniman dengan di mana mereka ditempatkan. Ketiga adalah persoalan besarnya pembiayaaan suatu penyelenggaraan bienal internasional yang menjadi bisa tertanggulangi secara signifikan.

Pembiayaan penyelenggaraan JCCB-4 masih sangat jauh dari cukup, namun kami berupaya untuk merealisasikan penyelenggaraan dengan dana sangat terbatas. Diawali pembiayaan oleh beberapa individual yang bersimpati kepada penyelenggaraan JCCB, keterlibatan pihak pemerintah terutama dukungan lembaga Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) sedikit membantu pembiayaan beberapa persiapan program. Namun upaya pencarian dana tetap diusahakan untuk menutupi berbagai program. Pusat Kebudayaan Jepang melalui Asia Centre, Jakarta telah memberikan dana untuk sebagian pembiayaan para seniman Jepang selama menjalani residensi maupun pameran JCCB-4.

JCCB-4 juga didukung oleh pihak media massa untuk menyebarkan informasi kepada masyarakat luas. Selain penyebaran informasi melalui teknologi media sosial, media besar seperti Metro TV dan Media Indonesia menunjukan minat untuk menjadi media partner JCCB-4, sehingga diharapkan mampu memberikan informasi dan apresiasi seni keramik kepada masyarakat luas. Tentunya dari segala keterbatasan, pelaksanaan JCCB-4 bisa berjalan karena semangat besar kawan-kawan panitia. Mereka tanpa pamrih bersama-sama melaksanakan bienal keramik yang termasuk sangat penting dan unik di Asia Tenggara. Dukungan Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, sebagai tempat pameran, serta para individu anggota Dewan Kesenian Jakarta merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi penyelenggaraan JCCB-4.

Semoga rencana ini berjalan dengan baik dan lancar.

Salam

Rifky Effendy

Pendiri JCCB dan Ketua Panitia JCCB-4

———

BINGKAI

https://jakartacontemporaryceramic.files.wordpress.com/2015/09/nurdian-ichsan.jpg?w=168&h=433

Memahami JCCB

Nurdian Ichsan

Tujuh tahun lalu, JCCB pertama kali diselenggarakan. Kelahirannya diniati sebagai ruang mediasi bagi praktik seni keramik kontemporer. Di tengah realitas seniman keramik di Indonesia yang bisa dihitung dengan jari, keberlangsungan JCCB saat itu masih jadi tanda tanya. Memang, seperti yang diungkapkan salah satu penggagasnya, Rifky Effendy, pameran skala besar yang kontinyu telah menjadi cita-cita para seniman keramik yang aktif sejak masa 1980-an. Tak kunjung terlaksana, kehadiran JCCB pada tahun 2009 menarik untuk diamati kembali konteks kemunculannya.

Seperti yang diungkapkan penggagas lainnya Asmudjo Jono Irianto, kehadiran JCCB tidak terlepas dari perkembangan seni rupa kontemporer masa itu. Di mana kemunculan secara signifikan seniman-seniman dengan media keramik dalam seni rupa kontemporer Indonesia pada beberapa tahun sebelumnya dipandang sebagai momen yang tepat untuk menginisiasi sebuah bienal seni keramik kontemporer.

Dalam kaitan itu juga, perlu kiranya melihat JCCB dalam konteks pembandingan dengan pameran berkala seni keramik internasional lainnya. Sejak dulu, format kompetisi dengan sistem call for entries merupakan satu ciri pameran-pameran keramik internasional. Seperti pada dua perhelatan yang telah dikenal luas yaitu bienal The International Competition of Ceramic Art Faenza, Italia (telah diselenggarakan 59 kali sejak 1932) dan trienal International Ceramic Festival Mino, Jepang (sejak 1986 dan telah diselenggarakan 10 kali). Format tersebut juga digunakan pada banyak perhelatan internasional serupa seperti trienal Nassauische Sparkasse, Jerman (8 kali, sejak 1991). The Manises International Biennale of Ceramics, Spanyol (15 kali), trienal The International Festival of Postmodern Ceramics, Kroasia, (lima kali, sejak 2002), International Triennale Silicate of Silicate Arts, Hungaria, (empat kali, sejak 2005), International Triennieal of Ceramics Unicum, Slovenia (tiga kali, sejak 2009), dan Cluj Ceramics Biennale, Rumania (dua kali, sejak 2013),

Biasanya penyelenggara membagi entri berdasarkan dua kategori yaitu keramik seni dan keramik desain. Ada pula pameran yang dalam setiap penyelenggaraannya menetapkan tema tertentu sebagai batasan seperti vessel, figur, atau mixed media. Selain itu biasanya tema bersifat sangat umum dan cenderung akomodatif terhadap berbagai kemungkinan intensi artistik. Dalam tiap pelaksanaan, ditunjuk beberapa juri yang lazimnya terdiri dari kritikus, kurator, dan seniman, untuk memilih karya-karya yang akan dipamerkan. Dari karya-karya finalis tersebut kemudian dipilih karya-karya terbaik untuk mendapatkan hadiah.

Sistem ini diterapkan dengan sedikit perbedaan pada Gyeonggi International Ceramic Biennale (GICB), Korea (8 kali, sejak 2001) dan Taiwan Ceramic Biennale (TCB) (7 kali, sejak 2004). GICB lebih merupakan city event yang terdiri dari berbagai kegiatan, di mana kompetisi merupakan salah satunya; selain pameran lokal dan internasional yang dikurasi, lokakarya, dan simposium. Sedangkan TCB menggunakan sistem kompetisi karya dan sistem kurasi yang dilakukan berselang-seling. Menariknya, kurasi pameran juga dikompetisikan secara terbuka.

Format berbeda diterapkan oleh British Ceramic Biennale (4 kali sejak 2009) dan Australian Ceramics Triennale (14 kali sejak 1978). BCB lebih bersifat festival, di mana melibatkan beberapa lokasi dengan berbagai program pameran, penghargaan, dan projek. Sedangkan ACT pada awalnya adalah konferensi nasional yang diselenggarakan berpindah-pindah di berbagai kota. Sejak tahun 2009 lingkupnya diperluas menjadi internasional dan lebih bersifat city event.

Umumnya perhelatan tersebut diselenggarakan di lokasi kota atau daerah yang merupakan pusat kerajinan atau industri keramik, seperti Faenza, Mino, Gyeonggi, Yingge, atau Stoke-on-Trent. Bahkan lebih khusus, sebagian besar venue adalah museum keramik. Ini tentu saja berbeda dengan JCCB, di mana konteks “Jakarta” tidak merujuk pada lokasi historis pusat keramik. Sedangkan dari sisi format, hingga penyelenggaraan keempat ini JCCB menggunakan baik sistem call for entries maupun undangan berdasarkan rekomendasi. Sistem seleksi dan penentuan tema selalu dilakukan oleh kurator dan tim penyelenggara. Format semacam ini memang lebih dekat pada sistem penyelenggaraan dalam pameran seni rupa kontemporer.

Perbedaan yang mendasar antara JCCB dan pameran keramik internasional lainnya adalah keterlibatan peserta non-keramikus. Hampir semua pameran-pameran internasional keramik berkala diikuti, atau memang diperuntukkan bagi para pekeramik. Di negara-negara yang medan seninya telah mapan, masing-masing wilayah yang ada dalam seni rupa yaitu fine art, craft dan design memiliki infrastruktur tersendiri. Mulai dari sistem pendidikan, museum, galeri, sampai publikasi, berjalan dan berdiri sendiri. Dari perspektif ini, berbagai perhelatan yang dipaparkan di atas bisa dipahami sebagai bagian dari sistem dalam sebuah medan seni. Semisal di Jepang, medan seni keramik merupakan entitas yang menyanggah sistem produksi-mediasi-konsumsi dari praktik seni keramik di sana. Pameran internasional dengan format call for entries merupakan sistem yang juga berfungsi sebagai alat ukur, pencapaian, dan bentuk pengakuan terhadap karir seorang seniman.

Pada titik tertentu hampir tidak terjadi “persinggungan” antara medan seni keramik dengan medan seni rupa modern dan medan seni rupa kontemporer. Terpisahnya secara spesifik medan-medan seni merupakan bagian dari kecenderungan “spesialisasi” dalam disiplin dan keprofesian seni rupa pada masa modern. Namun pada kenyataanya, penggunaan media lempung dan keramik ternyata tidak bisa dibatasi hanya untuk para keramikus dan seniman keramik. Bahkan sejak awal seni modern, secara natural banyak seniman dari wilayah fine art yang menggunakan media keramik dalam karya-karya mereka. Sehingga muncul lah sebutan “visitor” dari kalangan medan seni keramik, terhadap seniman-seniman tersebut. Seorang seniman disebut “visitor,” kecuali jika karya-karya keramiknya dianggap signifikan dalam konteks kekaryaan mereka, atau dalam tingkat tertentu merepresentasikan pemahaman terhadap problem teknis dan estetika dari keramik itu sendiri. Dalam hal ini Pablo Picasso dan Lucio Fontana merupakan contoh seniman yang telah dianggap sebagai “resident”.

Pemisahan semacam ini pada masa seni rupa kontemporer mulai ditinggalkan. Meneruskan pendahulunya para seniman modern, seniman-seniman kontemporer tetap saja tanpa hambatan menggunakan media lempung dan keramik. Lempung tetaplah salah satu media yang menawarkan berbagai kemungkinan intensi artistik. Hal ini tergambarkan melalui Biennial of Ceramics in Contemporary Art yang diselenggarakan pertama kali tahun 2001. Bienal ini mengundang seniman kontemporer dan desainer untuk membuat karya di pabrik keramik di daerah Albisola, Italia. Kota ini merupakan lokasi di mana Lucio Fontana menghasilkan karya-karya keramiknya. Formatnya adalah kolaborasi antara seniman dan desainer dengan craftsmen. Bienal ini seperti mengadopsi pendekatan yang dilakukan seniman-seniman modern di mana mereka berperan sebagai inisiator dalam proses berkarya.

Kemunculan seni rupa kontemporer, bukan hanya merubah wajah dan cara berkesenian, namun juga membuka berbagai kemungkinan pembacaan terhadap praktik-praktik seni rupa. Artinya pendekatan dalam kurasi pameran pun menjadi lebih terbuka dan menantang. Sejak tahun 1990-an muncul pameran-pameran yang bertujuan merayakan dan membaca keberadaan material lempung dan keramik dalam praktik seni rupa. Pameran-pameran tersebut melibatkan baik seniman keramik, maupun seniman modern dan kontemporer. Beberapa pameran tersebut adalah The Raw and The Cooked: New Work in Clay in Britain (London, 1993), A Secret History of Clay: From Gauguin to Gormley (Liverpool, 2004), The Unexpected From Picasso to Penck, Appel to Koons (Hertogenbosch, 2009), Doki-doki, The Magic of Ceramics-Artistic Inspiration (Shigaraki, 2012), Back to Earth. From Picasso to Ai Weiwei-Rediscovery of Ceramics in Art (Neumünster, 2013), dan Ceramix. Ceramics in Art from Rodin to Schütte (Maastricht, 2015).

HANDLE WITH CARE NOT FRAGILE Silicon Rubber Variable Dimension 2014

Yuli PrayitnoHANDLE WITH CARE NOT FRAGILE
Silicon Rubber
Variable Dimension
2014

JCCB yang terbuka terhadap non-seniman keramik, membawa semangat yang sama dengan pameran-pameran tersebut di atas. Namun seperti yang diungkapkan oleh Asmudjo, bisa jadi faktor yang paling mempengaruhi cara pandang JCCB tersebut adalah kondisi medan seni rupa Indonesia itu sendiri yang memang menempatkan seni keramik sebagai bagian dari fine art. Dari situ sebenarnya JCCB telah meletakkan platform dasar yang membedakannya dengan bienal keramik lainnya, dan sekaligus menunjukkan relevansi konteks masa kemunculannya. Kata kunci dalam memahami JCCB adalah sifat inklusif dan ekspansif. Inklusif dalam pengertian terbuka dan selalu melibatkan bukan hanya seniman keramik, serta ekspansif dalam pengertian mendorong baik terobosan-terobosan artistik maupun peluang penafsiran terhadap media dan pengertian keramik itu sendiri.

Mengalami Keseharian dan Terikutsertanya Gagasan dengan Perlahan-lahan.

Wawancara dengan Danijela Pivasévic-Tenner

WhatsApp Image 2016-08-02 at 11.11.00 AM

Bekerja sejak awal Agustus, Danijela Pivasévic-Tenner menjadi bagian dari gelombang pertama seniman residensi JCCB4. Bertempat di Institut Teknologi Bandung, Newsletter JCCB berbincang seputar caranya memperlakukan keramik sebagai medium dan pesan, dan bagaimana ia memberi perhatian terhadap situasi dan gambaran cerita dari situasi di sekeliling.

Bisa anda ceritakan tentang latar belakang anda?

Saya Danijela Pivasévic-Tenner, saya perupa yang aslinya dari Serbia. Saya belajar di sana di Applied Art University, University of Belgrade. Setelah itu saya pergi ke Jerman dan tinggal di sana hingga kini. Saya menyelesaikan program pascasarjana saya di sebuah sekolah seni di Berlin, dan kemudian saya mendapatkan sebuah kesempatan besar, pada sebuah hibah besar untuk perupa muda di Neumünster, Jerman Utara, untuk tiga tahun. Saya sekarang tinggal di sana, sebagai direkturnya, dan juga membuat karya-karya saya di sana. Saya bekerja menyusun dan mengelola program residensi seniman di Neumünster

Bagaimana anda pada akhirnya memilih jalan di seni keramik? Apakah memang sudah menjadi kesadaran sejak lama?

Agak sulit menjawabnya. Saya pikir hal itu sudah selalu menjadi sebuah proses alami. Sejak saya kecil, saya terpapar kepada berbagai macam material, dan pada waktu itu rasanya saya punya ikatan khusus dalam bekerja dengan tanah—dengan lempung, dengan material yang serupa. Ini adalah pengalaman yang sangat membekas, sebuah hubungan kuat dari zaman dahulu. Dan lalu ketika saya harus memutuskan untuk belajar menekuni apa, sudah sangat jelas bahwa saya akan belajar seni rupa, dan juga sudah agak jelas saya akan memilih seni keramik.

Apa yang anda sertakan di dalam karya-karya anda? Apa yang menjadi pengaruh besar?

Saya selalu bekerja dengan apa yang ada di sekeliling: hal sehari-hari. Dan tentu mengenai itu, topiknya akan selalu bermacam-macam. Jika saya bercerita tentang topik saya di Jerman maka akan menjadi sangat berbeda dengan topik di sini, sebab kehidupan sehari-hari di sini berada di wilayah yang lain. Saya mencoba untuk bekerja melalui benda-benda yang mudah—yang sederhana. Benda-benda yang dipergunakan sehari-hari, di mana orang-orang yang tidak punya ketertarikan khusus terhadap seni rupa bisa dengan segera terhubung melalui benda-benda ini. Dan ini, bagi saya, menjadi jalan terbaik untuk menemukan karya saya dengan khalayak, dengan orang-orang yang datang ke pameran, sebab pengalaman mereka utamanya jauh dari seni, dan dari pengetahuan filsafat yang mendasarinya. Karya saya perlu menjadi sesuatu yang ada di antara itu—menjembatani.

Seperti apakah misalnya benda-benda keseharian yang dihadirkan itu?

Misalnya, saya akan bekerja dengan teko, sebab benda inilah yang umum dipergunakan tiap orang di rumah. Dan di Jerman, merupakan sebuah budaya besar untuk menggunakan alat makan dari porselen. Maka dari itu karya-karya dari benda-benda ini akan otomatis masuk ke orang, sebab mereka akan pertama-tama bereaksi dengan benda-benda yang mereka kenal. Dan setelah itu, melalui gubahan dalam karya saya—atas deformasi dan transformasi—mereka akan bertanya, “Apa itu? Ada apa dengan benda ini?” dan seterusnya. Dan mereka akan mendapatkan gambaran pemikiran yang semakin mendekat. Contoh lain adalah saya senang menggunakan meubel. Salah satu karya lama saya mengambil obyek kursi malas. Saya membuat sebuah instalasi di mana kita seolah sedang memandangi ruang keluarga kita sendiri. Tentu kita akan merasa familiar, ia tidak akan menjadi janggal atau semacamnya. Seolah-olah kita perlahan-lahan menjadi masuk, melalui karya.

WhatsApp Image 2016-08-11 at 11.18.57 AM

Lantas apa yang sedang anda kerjakan di sini sekarang?

Di sini, saya kira sangat inspiratif untuk berada di sini, sebab begitu banyak hal baru yang saya lihat, hal-hal yang tidak saya tahu hingga kini. Bagaimanapun, saya mencoba untuk menyuruk ke masa lalu di sini, dan saya menemukan satu benda yang sangat menarik: kendi. Saya bekerja dengan kendi, lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang lain. Saya menghilangkan nilai fungsinya. Akan ada satu seri yang dipampang di dinding. Dan akan ada seri lain yang akan didekati melalui proses dan medium waktu. Ini telah selalu menjadi cara kerja saya. Saya mengambil itu dari benda-benda temuan. Ketika saya bekerja dengan kursi malas, misalnya, saya akan menuangnya sedikit demi sedikit, dalam waktu yang lama, dengan porselen cetak tuang; hingga saya rasa ia selesai. Dan saya akan mencoba untuk merekam semua fase yang berbeda-beda ini, merekam apa yang terjadi di antaranya.

Apa pendapat anda tentang JCCB sendiri? Adakah harapan tertentu?

Saya pikir ini adalah sesuatu yang besar, yang sedang terjadi di sini. Ini hebat. Sebagai perupa, bagi saya dalam bekerja dengan keramik, dengan porselen, saya pikir keberadaan kejadian besar ini penting. Sebab di seluruh penjuru dunia keramik masih dipandang bukan benar-benar sebagai seni. Dan inilah yang membuat orang-orang yang bekerja setiap hari dengan keramik geram, sebab ia sama saja dengan medium-medium lainnya. Karena itu saya pikir apa yang kita bisa capai bersama sebagai komunitas keramik adalah persis melalui apa yang dikerjakan di JCCB: membuat bienal yang hebat, simposia, berbagai pertunjukan, dan seterusnya. Kita harus aktif, menunjukkan pada orang bahwa kita ada di sini, kita hadir: keramik adalah seni. Sebab itu saya sangat menghargai apa yang ada. Saya juga sangat menyukai sikap JCCB yang tidak berfokus hanya di satu titik. JCCB benar-benar mencoba untuk membangun jejaring besar di Indonesia, hal ini juga besar.

13680193_10209330338672199_8153487341961339200_o

Bagaimana dengan program residensi ini sendiri dan pengalaman berada di ITB?

Saya saat ini sedang menjalani minggu kedua di sini, dan berjalan dengan sangat lancar. Hari ini saya sedang mempersiapkan tungku dan minggu depan akan ada satu karya yang beres, dan perlahan juga akan hadir yang kedua. Saya bekerja di ITB, saya sangat senang dengan lingkungannya, atmosfernya menyenangkan, energinya sangat terasa. Sebab di sini ada banyak mahasiswa, dengan energi kreatif yang terasa di mana-mana. Itu membuat saya benar-benar senang. Saya juga sesekali mengunjungi perupa-perupa lainnya, yang bekerja di studio-studio lain dan ruang-ruang lain yang sama sekali berbeda. Di sini, saya di universitas, dan di sana mereka bekerja di lingkungan pabrik, atau studio-studio keramik profesional. Saya senang menjadi bagian dari semua ini. Terima kasih atas kesempatannya. (YAR)

Mengancingkan Pengalaman, Kebiasaan, dan Ungkapan-ungkapan Kecil

Wawancara dengan Awangko Hamdan

IMG_2953

Berasal dari Sarawak, Malaysia, Awangko Hamdan adalah perupa keramik dan sekaligus pengajar di Universiti Malaysia Sarawak. Bertempat di Ahadiat Joedawinata Ceramics Studio, Punclut, Bandung, Hamdan menjalankan program residensi JCCB4, sebagai salah satu perupa pertama yang datang. Newsletter JCCB berbincang tentang kekaryaan dan pengalamannya selama berproses.

Bisa ceritakan bagaimana anda pertama melangkah ke dunia keramik?

Ini cerita yang panjang, saya hanya membuatnya menjadi pendek. Ketertarikan awal saya sebetulnya bukan pada keramik, bukan minat utama. Saya dulu lebih tertarik pada area tiga dimensional di seni patung. Ini kira-kira tahun 1981, tahun kedua perkuliahan saya di Universiti Teknologi Mara (UITM) di Shah Alam, Selangor, Malaysia. Tapi ketika saya mengikuti wawancara, saya tidak diterima untuk masuk ke departemen patung. Jadi saya pikir hidup saya sudah berakhir, saya ketika itu ingin pulang saja ke Sarawak. Tapi kemudian saya mengikuti kuliah oleh seniman keramik pelopor di Malaysia, Ham Rabeah. Ia juga melihat saya membakar gambar-gambar saya, saya tadinya sudah merencanakan untuk mengabdikan hidup saya di seni rupa, masuk ke seni patung ketika itu sangatlah penting bagi saya. Singkat cerita, Cik Ham kemudian membawa saya ke seni keramik, dan di situlah kita bermula. Saya menjadi jatuh cinta pada keramik, sampai hari ini. Kadang saya bertanya, apa jadinya bila saya tidak bertemu dengan Cik Ham Rabeah?

Minat awal pada patung membawa saya lebih dekat kepada keramik, sebagaimana juga kecintaan saya terhadap material lempung yang sangat inderawi, sebab ia merespon dengan sangat peka bahkan terhadap tekanan yang sangat kecil, kepada perasaan kita. Lempung adalah bahan yang sangat sensitif untuk mengungkapkan emosi kita.

Karya apa yang sedang anda kerjakan di sini? Dan bagaimanakah anda biasanya cara anda mendekati proses penciptaan karya?

Kemarin saya baru menunjukkan perkembangan karya saya. Hanya benda kecil sederhana saja: kancing. Mengapa kancing? Bagi saya, di samping kesederhanaan dan rupanya yang biasa, saya sangat merasakan tujuan dan keberadaan kancing di kehidupan sehari-hari kita. Ia berkelindan, menetapkan, menyatukan dua hal jadi satu. Meski ukurannya kecil, ia punya peran yang besar. Sebagaimana saya juga di sini, di program residensi, membuat hubungan dengan orang-orang di sekitar, dengan makanan baru, lingkungan baru, kebudayaan baru, bahkan lempung baru. Ini dilakukan dengan susah payah, tapi tidak mengapa juga. Terutama atas keterikatan saya dengan Punclut, sebuah kampung yang menyenangkan. Saya menikmati lingkungan saya ini, saya telah terhubung dengan anak-anak kecil di sini, dengan orang-orangnya, dengan desanya. Pada dasarnya merupakan pengalaman yang sangat menarik bagi saya. Dan saya melihatnya—saya mencoba untuk mengutarakan semua ini melalui benda-benda yang saya buat di Punclut: lewat kancing. Kancing menjadi berbicara banyak soal pertemuan dengan orang lain, berbicara tentang keterhubungan.

Selain terhubung dengan apa yang ada di sini, mula-mulanya kancing juga mengingatkan pada keluarga saya di rumah di Malaysia. Sebab biasanya istri saya membantu mengancingkan kemeja saya setiap pagi sebelum saya pergi bekerja. Seperti umumnya, kita menyambungkan kancing-kancing di kemeja kita. Setelah selesai bekerja, kita pulang di malam hari, kita menanggalkan kemeja, dan membuka kancingnya. Saya biasa mengopernya ke putri saya, untuk kemudian dicuci. Saya menyadari pada hari ketiga saya di Punclut, saya kehilangan sesuatu. Saya berpikir, ini tentang sesuatu yang biasanya ada sehari-hari. Itulah tentang kemeja saya, tentang kancing, tentang tindakan mengancingkan dan membuka kancing kemeja saya. Sebab ia jelas sekali mengikat saya dengan tata cara keluarga saya di rumah.

IMG_2952

Apa harapan anda untuk program residensi JCCB? Dan barangkali harapan di masa depan untuk JCCB sendiri?

Para panitianya, Rifky dan kawan-kawan—juga Asmudjo, saya pikir mereka memiliki peran yang sangat penting, tidak hanya bagi Indonesia. Saya membayangkan JCCB memainkan peran besar, peran penting bagi seni keramik dan seni rupa kontemporer di wilayah Asia Tenggara, dan mungkin di Asia. Saya pikir di wilayah ini tidak ada kegiatan keramik besar lagi selain JCCB, dan JCCB dapat juga berperan bagi pengembangan keramik di sini.

Kita sedang berbicara tentang sebuah bienal, kita saja tidak punya bienal di Malaysia, sementara di sini kita memiliki bienal keramik. Ini hebat. Dan saya tidak melihatnya sebagai sebuah program Indonesia saja, namun sebetulnya di atas landasan yang lebih luas. JCCB berbicara tentang menghubungkan orang, tidak hanya di Asia Tenggara, namun juga mencoba untuk memulai dengan semua perupa keramik di dunia, untuk menjadi berada di landasan yang sama di sini, untuk hanya satu hal: keramik. Apa yang dilakukan di sini sangatlah hebat. Kami di Malaysia belum sampai ke sana, barangkali masih dengan pelan dan pasti saja. Tapi seperti saya ungkapkan sebelumnya, saya mengagumi apa yang dikerjakan di JCCB. Dan saya bisa melihat JCCB sebagai satu bienal yang akan berjaya di masa depan, dengan menjadi kejadian keramik yang lebih besar. Jadi dengan itu, salut JCCB! (YAR)

Tumbuh Kembang Keramik di Institut Teknologi Bandung

IMG_1974

Sebagai rekanan penyelenggara program residensi seniman, Institut Teknologi Bandung (ITB), telah memiliki keterlibatan yang panjang sejak gelaran-gelaran JCCB sebelumnya. Newsletter berbincang dengan Nurdian Ichsan, kepala program studi Seni Rupa ITB, yang membawahi studio seni keramik; dan yang juga secara kebetulan merupakan salah satu dari dua kurator JCCB 4. Ichsan menjelaskan tentang bagaimana ITB menempatkan dirinya sebagai host dalam program residensi JCCB 4.

Bisakah diceritakan sejarah di antara medium keramik dengan ITB?

Studio keramik di ITB berdiri setelah hadirnya studio seni lukis dan seni patung. Pokoknya lebih dahulu dari studio seni grafis. Inisiatornya adalah Edie Kartasubarna dan Angkama Setiadipradja. Kedua inisiator tersebut diminta untuk studi keramik ke Amerika Serikat. Bersamaan dengan Srihadi Soedarsono dan rekan-rekan seangkatan, yang memang ketika itu banyak dikirim bersekolah ke AS. Alfred University, salah satu universitas yang bekerja sama dalam program tersebut, merupakan salah satu sekolah tertua yang punya program seni keramik.

Kendati belum dapat dipastikan benar, menurut cerita dari generasi awal studio keramik di ITB, kecenderungan karya-karya yang muncul setelah studi rintisan mereka berdua hadir dalam arah yang sangat pottery, sangat fungsional.

Lantas bagaimanakah perkembangan berikutnya hingga ke era kontemporer?

Beberapa tahun kemudian, pamor keramik sangat turun dan kurang peminatnya. Pengajar-pengajar merapatkan tentang persoalan tersebut, dan berencana untuk menggabungkan studio keramik dengan studio seni patung, karena fasilitasnya bisa digunakan secara sekaligus. Namun hal tersebut menjadi diperdebatkan karena ketiadaan sosok khusus yang menguasai dan bisa mengurus studio keramik. Lalu staf pengajar memutuskan untuk menyertakan Rita Widagdo, dosen seni patung, sebagai yang terlibat di studio keramik.

Setelah Rita Widagdo bergabung, kecenderungan di studio keramik mulai memperlihatkan gaya “khas ITB,” seperti gaya abstrak. Jadi, dalam keterlibatannya barulah muncul orientasi di studio keramik yang lebih ke arah seni tinggi. Rita Widagdo sendiri mengakui bahwa teknik-teknik yang dipergunakan dalam medium keramik, seperti persoalan glasir, tidak berkembang pada masa ini, karena memang bukan koridor keahlian yang dikuasainya.

Setelah Rita Widagdo tidak lagi terlibat langsung di studio keramik, pada karya murid-muridnya seperti Bambang Prasetyo dan Hendrawan Riyanto, masih terlihat kecenderungan yang tidak jauh berbeda. Kemudian terdapat perubahan struktural dalam akademik ITB, bahwa kemudian studio keramik masuk ke jalur Kriya. Saya sendiri termasuk mahasiswa yang terikutserta di sana. Awalnya, ketika muncul Departemen Desain, keramik sempat dipertanyakan apakah akan masuk ke departemen desain atau seni. Kartasubarna memutuskan studio keramik menetap di departemen seni, tanpa alasan yang diketahui dengan jelas.

Lantas semenjak kemunculan jalur Kriya di ITB, keramik menjadi ditempatkan dalam pertanyaan lagi, dan masuk ke kriya. Kriya yang ketika itu sedang digagas, sebagai yang agak berada di tengah seni dan desain, mengadopsi pendekatan yang berbasis material. Kriya mengambil material tekstil dari desain, dan material keramik dari seni. Ini terjadi pada akhir 1980-an. Dan pada kenyataannya hal ini tidak berjalan lancar, sehingga pada akhirnya tetap ada keramik baik di program studi seni rupa, dan di kriya.

Kembali berbicara soal gaya, pada tahun 1980-an memang muncul banyak sekali perubahan. Mulai dari yang dekoratif, mixed media, instalatif, dan figuratif. Terlihat transisi ke arah seni rupa kontemporer. Hal tersebut dipengaruhi, selain dari bocoran luar negeri, juga secara langsung oleh para staf pengajar seperti Hendrawan Riyanto dan selanjutnya Asmudjo Jono Irianto. Pendekatan teknis mulai aneh-aneh, di antaranya seperti introduksi teknik bakaran suhu tinggi—sebelumnya hanya hadir bakaran suhu rendah, pemakaian bahan porselen, hingga karya yang memakai es, atau juga karya keramik yang sama sekali tidak dibakar. Karya-karya tugas akhir pada suatu waktu banyak sekali yang nihilistik, misalnya berupa performance yang memecah-mecahkan keramik, yang hadir dalam bentuk-bentuk instalasi, dan lain-lain. Kebocoran-kebocoran informasi dari luar negeri membuat tahun-tahun tersebut agak bersifat ekstrim dan radikal, sehingga dosen-dosen mulai kebingungan menetapkan parameter penilaian. Karena itu pada waktu itu gaya formalistik sudah mulai ditinggalkan.

Apa yang ditawarkan ITB sebagai host program residensi JCCB kepada para perupa partisipannya?

ITB, selain memiliki iklim yang sangat akademik, fasilitas yang hadir juga bisa dikatakan mencukupi. Selain itu, mahasiswa juga dapat diajak berkolaborasi, dengan sambil mereka turut mempelajari metode-metode kerja seniman. Kemungkinan yang bisa diakses sangatlah banyak.

Semoga dampaknya bisa langsung terlihat di sisi mahasiswa; melalui diadakannya diskusi, dan sharing pengalaman seniman residensi, misalnya. Metode-metode penciptaan karya pun bisa dilihat langsung oleh mahasiswa dan dari situ mereka bisa mendapatkan pemahaman tentangnya. Referensi seperti itu sangat penting untuk mahasiswa, karena interaksinya langsung dan nyata.

Saya berharap setiap tahun akan ada seniman yang mengikuti residensi di ITB. (YAR, ARR)

Peristiwa Pertemuan dan Transformasi

WhatsApp Image 2016-08-05 at 7.16.49 AM

Bagaimana Ahadiat Joedawinata bekerja, berkarya, dan mengembangkan kecintaan pada medium keramik

Selain menjadi sosok pengajar yang dihormati, Ahadiat Joedawinata merupakan seorang desainer interior, perancang benda pakai, dan memiliki studio keramik di Punclut, Bandung, yang menjadi tempat tinggal dan berkarya sementara bagi Awangko Hamdan. Ditemui di rumahnya di wilayah Bandung Utara, Newsletter JCCB berbincang seputar riwayat dan pandangan yang dimilikinya, dalam hubungan sebagai rekanan program residensi seniman JCCB4.

 

Sebagai sosok yang mula-mula memiliki pendidikan dan kepakaran desain interior, bisakah diceritakan perjalanan Pak Ahadiat hingga memiliki studio keramik?

Saya mula-mula belajar interior, namun pada ujungnya, rupanya esensi interior bukanlah pada rupa ruang. Esensi yang saya temukan adalah hubungan antara material, kecakapan, dan energi. Yakni menerjemahkan gagasan-gagasan arsitek dan desainer interior—menjadi yang tangible. Gagasan itu sendiri tadinya abstrak, dan hal itu menjadi sama dengan peristiwa berkarya. Sebagaimana juga dalam mengerjakan kriya. Apa yang tadinya tidak ada menjadi ada, dari yang abstrak menjadi benda nyata, dari intangible concept ke tangible product. Begitu.

Semua itu saya lihat secara filsafat adalah sama. Kemudian bagaimana gagasan muncul dari peristiwa-peristiwa: dari pengalaman, dari teman-teman, dari yang pernah dikenal. Jadi masukannya adalah di antara dua itu. Pengalaman saya terjemahkan ke dalam berbagai macam media. Pengalaman saya berhubungan dengan klien saya, dalam arsitektur atau interior, saya terjemahkan melalui media demi media untuk membangun interior secara fisik. Need, feel, dan will abstrak dari klien, diubah menjadi objek yang memenuhi need, feel, dan will-nya. Nah itu, sebetulnya prinsipnya cuma sederhana seperti itu saja.

Masalahnya sekarang saya menjadi melihat persoalan ini karena saya bergerak di bidang yang tidak jelas itu—di desain. Mula-mula pengalaman saya adalah ketika melukis di sanggar seniman, dengan Pak But, Pak Kartono, Pak Srihadi. Kemudian masuk perkuliahan ke seni rupa ITB, dan akhirnya mengambil jurusan interior. Kemudian setelah menemukan kunci gagasan tadi, saya pikir kenapa saya mesti di interior saja? Persoalan lain pun bisa dipikirkan dengan konsep yang sama: abstrak menjadi objek. Kalau dalam penelitian, misalnya, adalah sebaliknya, dari objek menjadi konsep.

Bahwa nanti karyanya menjadi seperti apa, itu tergantung perkembangan kita, kita dari saat tertentu, dari waktu ke waktu dan ruang ke ruang. Kita menjadi punya paham baru, pemahaman baru yang sebetulnya bisa menjadi objek untuk kita representasikan—itu kalau di karya seni. Di desain, hal itu kita representasikan jadi objek-objek desain. Maka dari itu, ketika saya pindah dari interior ke keramik, pada dasarnya prinsipnya sama. Saya dengan keramik bersikap lebih bebas, orang bisa suka atau tidak suka dengan tergantung pada persepsi mereka. Tapi pada bidang interior, saya harus menyesuaikan terus-menerus dengan need, will, capability dan lain sebagainya dari klien anda. Saya sudah agak tua, jadi kebetulan agak longgar dan bebas, makanya saya cenderung ke sini.

Nah, keramik-keramik ini, ketika dari peristiwa gagasan menjadi objek melalui satu periode—melalui medium, Dalam medium terkandung perihal material: ada teknik, kepakaran, keperangkatan, dan satu lagi, ada energi. Kebetulan di keramik energinya adalah termal, panas. Dari yang lembek menjadi keras itu melalui panas, sebab jika tidak akan lembek terus. Semisal juga ketika saya mengerjakan medium bambu bersama istri saya—sejak tahun 1979 saya mengerjakan ini juga. Material bambu punya karakter sendiri, sehingga ia bisa mendukung bentuk-bentuk tertentu, dan ada juga bentuk-bentuk yang tidak didukungnya. Material mengendalikan bentuk apa yang bisa dicapai. Ketika saya memegang tanah liat, sikap saya menjadi seperti ini, tapi jika saya memegang bambu menjadi berbeda lagi. Sebab bambu punya peran untuk mengatakan apa yang dia tidak bisa capai.

Hasil karya saya menjadi percampuran dari apa yang bisa saya tangkap. Banyak juga hal yang bagus yang tidak bisa saya tangkap, sebab dayanya berbeda. Sebaliknya juga dengan orang lain. Faktor yang menentukan menjadi banyak—bagi kita di budaya materi, dalam konteks seni rupa. Tapi, faktor pembedanya juga banyak, karena latar dan kecenderungan kita, dan faktor-faktor lain.

Apakah lantas keramik kemudian menjadi bahasa tersendiri?

Bahasa. Saya mengerjakan bambu, saya mengerjakan beton, mereka punya karakter sendiri. Tapi untuk itu ada persyaratan tertentu, siapa yang menjadi pengguna akhir. Untuk kita di seni rupa, pengguna akhir adalah siapa yang bisa menangkap tanda-tanda dari saya.

Lalu sejak kapan Bapak Ahadiat menjadi menyentuh dan menekuni bahan keramik secara serius?

Ada cerita psikologis sendiri untuk persoalan ini. Saya bukan tipe orang berpikir, saya tipe orang berbuat. Kenapa ke keramik? Karena saya waktu itu harus mengambil program S3. Bagi saya tidak enak membuat tulisan, tapi harus. Saya mengambil obyek penelitian dalam menerjemahkan peristiwa bambu, dalam latar belakang dan berbagai proses, hingga menjadi objek. Manusia, bambu, dan faktor-faktor lain, menjadi objek. Kebetulan, di antara seni dan desain itu ada kriya. Nah mungkin itulah yang menjadi pendekatannya, sebagai kasus.

Kenapa demikian? Ada suatu peristiwa di mana saya menjadi frustrasi dalam menulis. Oleh karena itu, untuk menghalau rasa itu, saya mengambil tanah liat.. Di rumah, sambil capai, saya mengerjakan tanah liat. Lama-lama saya menjadi senang. Karena ada material, teknik, dan bentuk-bentuk yang dibangun. Lalu saya minta dibikinkan tungku, jadilah satu tungku kecil. Tapi sebetulnya ketika itu saya belum selesai menulis. Sampai akhirnya saya selesai program doktoral, ternyata karya saya menjadi banyak. Banyak sekali, barangkali sampai 48 karya sewaktu saya frustrasi dan mencari-cari. Mereka dibakar, diglasir, lalu akhirnya menjadi keramik-keramik ini—yang abstrak dan lepas saja, sebab memang dibuat untuk melepas stres. Akhirnya saya berbincang dengan guru saya Pak Widagdo, beliau adalah pribadi yang sangat keras dalam urusan disiplin ilmu. Dan saya bertemu juga dengan istrinya, Ibu Rita. Mereka cukup terkesan, dan justru bilang karya-karya ini bagus untuk dipamerkan. Akhirnya ini menjadi sebuah pameran di Selasar Soenaryo.

Akhirnya karena membuat keramik, saya perlu tukang—ini perlu dibiayai. Maka saya membuat produk keramik, supaya saya bisa menggaji orang-orang yang membantu saya. Ini sekitar pertengahan dekade 2000. Jadi saya mengerjakan keramik juga. Saya senang, saya jatuh cinta, sebab menjadi mengenal. Saya jadi jatuh cinta pada barang-barang ini.

Lalu bagaimana dengan perjalanan studio keramik milik Pak Ahadiat sendiri?

Karena aktivitas menjadi semakin besar, akhirnya perlu fasilitas, terpaksa punya berbagai peralatan. Saya pikir ini menjadi berat, di luar pembuatan produk, saya juga setiap tahun harus berpameran. Kira-kira seperti itu, tidak aneh-aneh, berkembang saja dengan sendirinya. Akhirnya semua saya pindahkan tempatnya ke kampung, ke studio di Punclut, tempat di mana Awangko sekarang bekerja. Tempat itu sedang saya tidak pakai jadi saya persilakan untuk dipergunakan.

Mengenai JCCB dan program residensinya, adakah harapan tersendiri yang Bapak pikirkan?

Saya ada pemikiran tentang pertemuan. Saya selalu senang bertemu dengan generasi muda, dan saya senang juga bertemu dengan dosen-dosen saya dahulu. Mungkin dalam bekerja juga saya menjadi seperti itu. Orang mengatakan itu tidak konsisten, tapi bagi saya hidup itu tidak konsisten, bagaimana peristiwa yang terjadi. Bagi saya hidup itu bukan konsistensi: dinamisme. Kalau tidak dinamis, kalau statis, ya bukan hidup lagi.

Seniman residensi membawa karya, membawa pikiran, yang mungkin berbeda dengan saya. Jadi semisal bertemu dengan Awangko, mungkin memang berbeda, tapi kadang menjadi hibrida. Pikiran anda dan saya bertemu menjadi sesuatu yang baru. Dan hibrida itu menyenangkan, sebab membawa kebaharuan bagi banyak pihak.

 Saya selalu senang bertemu dengan orang banyak, itu positif. Fenomena global itu adalah bertemu dengan orang banyak. Jika saya diam saja, di Ciamis misalnya, tempat saya dulu, saya jadi tukang kerupuk deh. Atau jadi pengusaha bus, kaya. Jadi pertemuan itu sebetulnya pemerkayaan. Kebaharuan gagasan, kebaharuan pikiran, kebaharuan teknik, atau apapun juga. Penghargaan saya untuk teman-teman yang mengorganisir kegiatan ini, sebab tidak semua negara bisa. (YAR)

Newsletter JCCB adalah edaran berkala yang terbit berkala setiap bulan, diterbitkan oleh Jakarta Contemporary Ceramics Biennale.

Alamat

Jl. Terrawangi No. 8 Kpg. Pagersari – Kel Pagerwangi. RT 03 RW 08

Dago Giri

Bandung, Indonesia 40391

Penanggung Jawab: Ketua Umum Jakarta Contemporary Ceramics Biennale

Redaktur Pelaksana: Yacobus Ari Respati

Kontributor: Axel Ramadhan Rizky, Puja Anindita, Yacobus Ari Respati

JCCB4

Ketua umum :

Rifky Effendy

Direktur artistik : Asmudjo J. Irianto

Kurator  :

Nurdian Ichsan,  Rizki A. Zaelani

Sekretaris      :

Nadya Aurora

Keuangan   :

Tania Kardin

Koordinator Program Residensi: Nia Gautama

Desainer Grafis           :           Yudho Satrio

Editor Teks                  :           Yacobus Ari Respati

Marketing / Sponsorship :       Femmy Yesiana

Program residensi

ISBI Bandung             :

Deni Yana

ITB                              :

Natas Setiabudh , Akbar Adhi, Nesa Pratama

Tanteri Ceramic           :

Putu Oka Mahendra

AA Ivan Studio            :

Agung Ivan

Ahadiat Joedawinata Ceramics Studio :

Ahadiat Joedawinata & Chairin Hayati

Dokumentasi Foto AIR Agustus 2016

Advertisements