Rifky Effendy

Pengantar Kuratorial 1

Jakarta Contemporary Ceramic Biennale 2009
In Between Space of Contemporary Art

oleh: Rifky Effendy

Untuk menghormati mereka, para pendahulu yang telah berpulang: Eddie Kartasubarna, Hildawati Soemantri, Suyatna, Hendrawan Riyanto.

Seni Rupa dan Praktik Seni Keramik Saat Ini
Perkembangan seni rupa kontemporer di wilayah Asia terutama Asia Tenggara, akhir-akhir ini menunjukan suatu gestur yang dinamis. Beriringan dengan gejala ekonomi, sosial-politik, dan budaya masyarakat di wilayah ini, perwajahan seni rupa telah mengalami evolusi yang signifikan, setidaknya sejak awal dekade 2000-an. Globalisasi merupakan suatu kenyataan yang mendorong perubahan-perubahan dalam perilaku artistik dan cara pandang para seniman. Perubahan paradigma dalam memandang sebuah praktik seni rupa tidak lagi berpijak pada keyakinan –keyakinan maupun pemahaman tunggal. Seringkali perubahan-perubahan ini pun menyisihkan atau melemahkan banyak kelompok – kelompok yang tadinya dianggap mapan dan teguh terhadap sebuah ideologi estetik. Tapi disisi lainnya, muncul kesempatan bagi yang tersisihkan atau termarjinalkan sebelumnya, untuk kembali mengisi ruang-ruang kehidupan budaya. Mungkin inilah berkah dari jaman pasca-modern, memecah sesuatu dominasi yang telah menjadi menara gading. Mendesentralisasi pusat yang tunggal menjadi pusat-pusat yang majemuk.

Begitupun praktik seni keramik kontemporer, walaupun frekuensi pameran seni keramik di Indonesia tidak seintensif seni lukis, tapi dalam beberapa tahun menunjukan peningkatan terhadap apresiasi seni objek keramik. Ranah seni keramik , adalah suatu perkembangan yang berbeda. Pada perkembangan sejarah seni rupa modern Barat, seni keramik diposisikan sebagai suatu praktik yang dikategorikan dalam craft atau kurang lebih kriya dalam bahasa Indonesia. Praktik seni dengan menggunakan medium yang dianggap telah usang dan dekaden, namun dengan pemikiran – pemikiran baru (modernisme) yang meliputi pemahaman baru pada materi tanah, proses pembakaran dan unsur pewarnaan serta pencarian bentuk. Seni keramik seolah mendapatkan tempat kembali dalam masyarakat modern .

Tetapi dalam seni modern, secara hirarki keramik bukanlah medium utama para seniman. Para praktisi keramik tetap jauh dibawah kebesaran para pelukis dan pematung, bahkan mereka menggunakan medium ini untuk mengisi waktu luang. Seperti pelukis Picasso, yang pernah menggarap bidang dan bentuk keramik pottery disebuah studio di Spanyol. Ia menggunakan keramik sebagai salah satu alternatif medium karyanya, memberinya suatu pengalaman estetik baru. Di Indonesia, modus yang sama dilakukan oleh para pelukis seperti H. Widayat maupun Iwan Koeswanna pada dekade 1980-an.

Kemunculan seni keramik modern di Indonesia, lewat berdirinya studi jurusan seni keramik di Fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB tahun 1963. 1) Memberikan peluang bagi para mahasiswa untuk mempelajari secara akademik mengolah membentuk dan proses materi tanah liat hingga menjadi keramik. Relevansi pendirian studi seni keramik adalah untuk memenuhi kebutuhan bentuk ekspresi seni dengan materi yang khusus. Kaitan ini dengan suatu kenyataan bahwa budaya pembuatan tembikar/gerabah atau keramik yang menyebar luas ditiap penjuru dunia, sejak ribuan tahun dan terus mengalami perkembangan.

Hingga muncul revolusi industri di Eropa, keramik mengalami industrialisasi, tetap diproduksi untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Seperti industri ubin, perlengkapan domestik hingga teknologi. Begitupun dengan benda-benda seni maupun dekorasi, keramik masih tetap mendapat tempat. Dalam budaya masyarakat di Asia, keramik mempunyai tempat yang lebih luas bahkan dalam beberapa hal sangat penting, berkaitan dengan fungsi maupun ritual . Hal ini juga mencerminkan bahwa ketersediaan bahan tanah lempung dan bahan lainnya menjadi salah adanya budaya keramik. Alih-alih bahwa bagi beberapa budaya, seperti China, Persia, Jepang , keramik telah menyatu dalam kehidupan masyarakat sebagai suatu bagian identitas budaya mereka. 2)

Beberapa Aspek dalam Praktik Seni Keramik Modern di Indonesia
Dalam perjalanan kemudian, perkembangan seni rupa modern bertumpu pada munculnya perguruan tinggi. 3} Begitupun dengan seni keramik (FSRD-ITB) di Indonesia, memunculkan lulusan yang kemudian diserap oleh industri keramik maupun pusat pengembangan keramik maupun membuka studio yang memproduksi benda-benda domestik yang jumlahnya terbatas. Hanya beberapa dari mereka yang kemudian membuat karya individual dan memamerkannya, seperti Hildawati Soemantri (Alm) Lengganu dan Bambang Prasetyo, pada dekade 1970-80-an. Karya-karya mereka bercorak sangat modern dan menciptakan bentuk-bentuk yang sama sekali tidak mengikuti tradisi keramik pottery.

Karya-karya mereka mencerminkan semangat yang lebih individual serta menghadirkan bentuk-bentuk cenderung abtsrak – formalisme. Hildawati seperti, yang dikemukakan penulis Carla Bianpoen, pada tahun 1976 pernah menghadirkan sebuah karya instalasi keramik, maka ia tak berlebihan menjuluki Hildawati sebagai ibu seni keramik modern Indonesia. Hildawati juga yang membuka studio keramik di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) atau Insitut Kesenian Jakarta (IKJ) sekarang, pada tahun 1976. 4) kemudian beliau pergi ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi sejarahnya hingga mendapat gelar doktor dengan penelitiannya mengenai gerabah Majapahit di Trowulan. 5)

Di IKJ, Hildawati menghasilkan nama-nama pekeramik yang juga para muridnya, seperti (Alm) Suyatna dan Lidya Poetrie. Suyatna kemudian melanjutkan studi keramik di negara Jepang dan mendalami tradisi pembuatan keramik Jepang yang sudah sangat lama dan mendapat tempat khusus dalam kehidupan masyarakat disana. Suyatna kemudian mendirikan studio keramik di daerah Tangerang dan juga sesekali mengajar di IKJ. Karya-karya keramik Suyatna cenderung berwatak lebih dekat dengan tradisi pottery, namun secara teknis memutar dan pengglasiran (proses pewarnaan) karya pottery Suyatna lebih ekspresif dalam artian mengadaptasi teknis dan metoda keramik tradisi Jepang seperti keramikus legendaris Shaoji Hamada. Perilaku ini baginya menjadi proses yang individual, dari mulai mengolah tanah lempung, bahan glazir dan tungkunya.

Pekeramik lain yang menonjol dan dikenal luas masyarakat seni Indonesia adalah F. Widayanto. Lulusan studi keramik di ITB ini bermula dari membuka studio yang membuat benda perabot keramik yang unik. Kemudian ia memamerkan patung-patung keramik yang didasari dari tokoh-tokoh mitologi pewayangan Jawa. Widayanto adalah pekeramik yang paling sering melakukan pameran secara berkala dan juga menampilkan karya-karya yang tematik sepanjang dekade 1990-an dan 2000-an. Kemampuan artistiknya dalam mengolah figur dari lempung dan penerapan glasir, menjadikannya sebagai seniman yang mampu mengggabungkan antara ekspresi budaya Jawa dengan semangat modern yang menyentil.

Pada dekade 1990-an, pekeramik Liem Keng Sien membuka pendidikan non-formal atau kursus keramik di rumahnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Kengsien yang belajar keramik di Belgia dan mempunyai ketertarikan yang khusus, terutama terkait dengan bahan-bahan alam yang tersedia di Nusantara. Idealismenya ini selalu tercermin pada karya-karyanya, seperti penggunaan warna – warna, mineral dan tanah lempung. Murid-muridnya diberi dorongan untuk membuka studio dan berupaya untuk menjadi mandiri sebagai seorang pekeramik. Mereka yang kemudian berhasil dan menjalankan studio adalah Evy Yonathan, Ira Suryandari dan Nia Gautama.

Kemunculan banyak studio keramik pottery maupun individual terjadi pada akhir dekade 1990-an. Apakah dari kursus hingga jebolan perguruan tinggi seperti ITB, ISI Jogja dan IKJ, saya mencatat bahwa mereka pada saat itu lebih mudah mendapatkan perlengkapan atau sarana. Pada saat ketika para pendahulu memulai, perlengkapan seperti tungku pembakaran, tanah lempung, bahan glasir dan lainnya terbilang cukup langka. Mereka harus memesan dari luar negeri atau merakit sendiri dengan menggunakan bata tahan api untuk pembakaran suhu tinggi berbahan bakar minyak tanah atau solar. Kemudahan tersebut adalah dari upaya beberapa orang untuk mencoba membuat tungku dengan bahan bakar elpiji dan portable.

Salah satunya adalah Asmudjo Jono Irianto, yang juga berprofesi sebagai dosen, seniman dan kurator. Tungku – tungkunya banyak dipesan oleh para praktisi muda karena harganya terjangkau dan juga ringan. Sehingga untuk membangun sebuah studio keramik, tak butuh lahan luas, cukup diperumahan penduduk biasa dan tanpa polusi. Bahan-bahan untuk membuat tungku, ia dapatkan dari sumber-sumber yang ada disekitarnya, seperti dari para supplier untuk produsen keramik yang berskala industri besar. Begitupun dengan persediaan bahan pewarna dan campuran lainnya yang bisa langsung digunakan, menjadi pendukung yang utama praktik seni keramik.

Seni Keramik Kontemporer.
Pada dasawarsa 1990-an, suasana seni rupa Indonesia memasuki masa – masa yang penting. Selain isu-isu mengenai budaya pasca – modern mulai dilantunkan juga diiringi berbagai peristiwa seni rupa yang cukup berbeda. Seperti pameran seni rupa negara-negara Non Blok di Galeri Nasional , juga pada akhir tahun 1992, terselenggara Biennale Jakarta ke IX. Pertama kali, kurator Jim Supangkat memamerkan puluhan seniman yang berkarya dengan idiom instalasi, media campur, media baru dan lain sebagainya. Pameran ini seolah mengingatkan kembali pada apa yang terjadi dalam dasawarsa tahun 1970-an, dimana Jim Supangkat dan rekan seniman lain mengadakan pameran yang menggugat elitisme seni rupa. Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB), dalam catatan (Alm) Sanento Yuliman, membuka kesadaran baru pada praktisi seni rupa pada gagasan tentang seni lingkungan, instalasi, penyerapan seni populer, dunia komersial dan media massa, pelibatan seni ke dalam masalah sosial dan lingkungan hidup. Kecenderungan karya-karya mereka mencakup pula eksperimentasi terhadap berbagai bahan, teknik serta bentuk yang semula tak lazim, atau kita lihat, dalam ungkapan seni rupa. 6)

Di studio keramik ITB, semangat ini menular pada para mahasiswa tingkat akhir. Karya instalasi tanah lempung Andar Manik, kala itu mahasiswa studio keramik. Membuat kesadaran baru pada para mahasiswa lain bahwa persoalan perwatakan materi dan waktu menyangkut lempung kemudian pengeringannya, dibiarkan retak dan berjatuhan dari dinding bisa menimbulkan suatu gagasan karya. Perilaku seperti ini tentu saja bertentangan dengan kaidah – kaidah konvensi seni keramik, dimana proses pembakaran menjadi salah satu aspek yang paling penting. Namun karya-karya diluar jalur konvensi seperti Andar Manik, banyak didemonstrasikan dikemudian hari oleh para mahasiswa keramik. Seperti Titarubi yang menggabungkannya dengan seni pertunjukan, membiarkan patungnya terjatuh dari batu es yang meleleh, sebagai pedestal patung keramiknya.

Penggabungan antara ritual tradisi dalam budaya masyarakat dan ekspresi seni rupa modern di sajikan oleh seniman dan juga dosen seni keramik dari ITB, (Alm) Hendrawan Riyanto (1959 – 2004). Karya-karya beliau selain berupa karya-karya tiga dimensional dari tembikar dengan konstruksi bambu, seringkali menggabungkannya dengan seni rupa pertunjukan (performance art) yang cenderung mirip ritual seorang shaman (kurang lebih berperilaku mirip dukun). Dengan berbekal pemahaman formalisme yang tinggi, Hendrawan mampu mengolah objek-objek berbahan gerabah yang diikat dengan kawat – yang ikut dibakar, sehingga muncul retakan-retakan yang spontan akibat proses deformasi alam, namun tampak harmonis. Puncaknya, ketika ia menyuguhkan sebuah patung kerbau berukuran sebenarnya dengan bahan gerabah tanah merah. Dalam karya-karya Hendrawan, ia sering mengajak kita untuk kembali merenungkan tradisi dan nilai budaya timur. Namun dengan cara dan bahasa yang lebih puitis.

Karya-karya yang saya sebutkan terakhir rupanya menghantarkan praktik seni keramik pada wilayah abu-abu atau arena dimana persilangan tanda-tanda budaya dan bentuk-bentuk seni saling menyambung dan bertukar identitas, menjadi cerminan seni rupa pasca modern. Alih-alih terjadi proses hibridisasi dalam budaya dan seni sekaligus memberi peluang bagi para praktisi keramik untuk lebih luas berekspresi. Walaupun beberapa kelompok atau komunitas masih melihat posisi seni keramik masih terlalu kecil dan belum menorehkan sejarah yang panjang dalam percaturan seni rupa. Namun secara berangsur, kepercayaan diri para praktisi sekarang ini tampaknya semakin mantap terutama bagi para perupa muda.

Justru karena memang posisinya yang “marjinal” itulah, beberapa dari mereka tak lagi mengacu pada suatu pandangan tunggal serta sangat aktif menyelenggarakan pameran seni keramik, baik di dalam maupun diluar negeri. Seni keramik kontemporer berada diantara wilayah – meminjam istilah Sanento : ‘seni rupa atas dan seni rupa bawah’. Sebagai praktik seni ia mengandung elemen-elemen yang dibentuk oleh budaya modern dan model akademinya.Tapi juga sekaligus masih menggunakan materi dasar dan metode yang merujuk pada tradisi panjang pembuatan keramik. 7)

Biennale Keramik Kontemporer.
Dalam penyelenggaraan biennale keramik pertama di Indonesia ini, ada beberapa hal yang mendasari. Pertama adalah eskalasi aktifitas pameran seni rupa kontemporer dalam beberapa tahun terakhir ini, memberi ruang bagi karya-karya objek dan patung dengan medium keramik, baik sebagai medium utama maupun sebagai elemen dalam karyanya. Lalu kedua adalah munculnya pemikiran dan pemahaman baru terhadap dunia seni rupa dan praktisi seni keramik. Forum-forum internasional seni keramik di Asia bermunculan, terutama di Taiwan dan Korea, begitupun interaksi diantara seniman keramik yang semakin intens seiring dengan kemudahan informasi dan komunikasi. Sehingga mereka semakin sadar bagaimana berhadapan dengan medan sosial (kapital) seni rupa saat ini, baik dalam konteks lokal, regional maupun internasional. Ketiga, keberagaman bentuk idiom seni keramik yang luas akan masih terus berkembang dan juga menjadi potensi bagi publik untuk mengapresiasi lebih jauh, bagaimana dunia keramik bermakna pada aspek kehidupan sebuah budaya masyarakat saat ini.

Gagasan untuk membuat sebuah pameran keramik dengan cakupan yang besar, pernah digagas oleh para pendahulu seperti Hildawati, Suyatna, Liem Keng Sien. Beberapa kali terselenggara sebuah pameran besar keramik, khususnya di Jakarta, seperti pameran keramik muda Indonesia di Galeri Nasional yang juga dikuratori oleh Asmujo J. Irianto dan Nurdian Ichsan tahun 2004. Pameran ini seolah menguak potensi para perupa keramik muda, dengan karya-karya mereka yang membebaskan diri dari batasan-batasan seni keramik pottery bahkan terhadap nature medium itu sendiri. Maka Jakarta Contemporary Ceramic Biennale (JCCB) # 1 ini bakal menjadi suatu momentum sebagai perhelatan yang berskala besar dan berkala dua tahunan, bagi para praktisi serta pemerhati seni terutama seni keramik. Bukan hanya di tanah air, tapi juga dalam peta seni rupa di Asia tenggara dan Internasional.

Penyelenggaraan pertama JCCB #1 diikuti para praktisi keramik dari beberapa kota di Indonesia, Singapore, Malaysia, Thailand, Phillipine, Belanda, Italia, Amerika Serikat serta Australia. Karya – karya keramik yang disuguhkan mempunyai keragaman latar : seperti karya yang berbasis pada tradisi pottery seperti karya Ahadiat Joedawinata , Hadrian Mendoza (Phillipina) dengan bentuk botol-botol bakaran kayunya, Mohd Roslan Ahmad (Malaysia), Endros Sungkowo, A.A Ivan W.B., Marcello Massoni – Michella Foppani – Hillary Kane dari Gaya Ceramic Centre – Bali, dengan bakaran rakunya. Kelompok karya-karya dengan bentuk objek patung disuguhkan oleh F. Widayanto, Noor Sudiyanti, Endang Lestari, Kang Sri Hartono, Lie Fhung, Ira Suryandari, Evy Yonathan, Ika W Burhan, Mirjam Veldhuis (Belanda), Shamsu Mohamad (Malaysia) , Umi Baizurah (Malaysia) dan Krisaya Luenganantakul (Thailand) yang menyuguhkan gestur penjelajahan dan olahan patung-patung keramik dari ekspresi dunia personal.

Kecenderungan menyusun instalasi disajikan oleh Albert Yonathan dengan konfigurasi bentuk – bentuk figur kontemplatifnya. Begitupun karya instalasi lain, seperti Ponimin, Taufiq Panji Wisesa, Tisa Granicia, Nia Gautama serta Nadya Savitri,Titarubi dan dua pematung non keramik seperti karya Wiyoga Muhardanto dan perupa Handiwirman Saputra. Dengan pembentukan mulai dari cetak dan handbuilding, bahkan menggabungannya berbagai metode dan materi lain. Permukaan tanah lempung yang dimanfaatkan untuk menggambar dengan menoreh disajikan oleh karya –karya Ferry Pharama dan Harry Mahardika. Nurdian Ichsan menyajikan karya instalasi terakota yang interaktif dengan para pengunjung. Sedangkan karya Herra Pahlasari dan Tromarama menyajikan karya-karya video dengan rangkaian objek keramik industri. Mereka masing-masing menyajikan narasi kehidupan dari koridor benda- benda keramik domestik keseharian.

Dari karya-karya dalam bienale keramik ini diharapkan publik bisa mengapresiasi bagaimana keberagaman dan keluasan seni keramik sekarang. Baik dalam lingkup praktik art craft (kriya seni), hingga seni konseptual dan media baru. Diharapkan JCCB ini akan menjadi agenda baru dalam peristiwa budaya di kota Jakarta dan tanah air. Dengan dukungan dari North Art Space dan Jaya Ancol, JCCB juga akan mengukir sejarah baru bagi perkembangan seni rupa Indonesia di tengah percaturan seni rupa dunia. ***

Footnotes:

1.http://www.fsrd.itb.ac.id/?page_id=3. Studio seni keramik didirikan oleh Prof. Eddie Kartasubarna.
2. http://en.wikipedia.org/wiki/Ceramic_art
3.Dua Seni Rupa, Sepilihan Tulisan Sanento Yuliman. Di edit oleh Asikin Hasan. Yayasan Kalam.2001. Jakarta Hal. 59.
4. http://id.wikipedia.org/wiki/Institut_Kesenian_Jakarta
5. http://www.javafred.net/rd_cb_9.htm
6. Sanento Yuliman. Op.Cit. Hal. 60.
7. Sanento Yuliman, Dua Seni Rupa. Op. Cit. Hal 23 – 28.

(English)

Jakarta Contemporary Ceramic Biennale 2009
In Between Space of Contemporary Art
by Rifky Effendy

Dedicated to the pioneers who left us great works: Eddie Kartasubarna, Hildawati Soemantri, Suyatna, Hendrawan Riyanto.

Fine Art and the Practice of Ceramic Art at the Present Time
The development of contemporary art in Asia, specifically in South-east Asia region, has shown dynamic gesture lately. Along with the economic, socio-politic and culture symptoms in such area, the face of fine art has gone through significant evolution, notably since the very beginning of 2000. Globalization is the fact that encourages such changes in artistic behaviour and the artists’ point of view. Changes in paradigm in viewing a fine art practice has no longer based on believes or single comprehension. It is more than often that these changes left, and even weakened, many groups that previously had acknowledged as settle and stoic in terms of aesthetic ideology. On the other hand, the opportunity for those who previously left out or marginalized emerges, to be back to fill the spaces in cultural living. It seems a blessing from post-modern era, to break a domination that had become an ivory tower; decentralizing one single centre into plural core.

And so does the art of contemporary ceramic, although its exhibition frequency in Indonesia is not as intense as paintings, yet, for these past several years, there are increase towards the appreciation for the object of ceramic art. Ceramic art discourse is a different development. On the development of Western modern fine art, ceramic had been positioned as a practice categorized as craft. It was a practice of art using the medium considered as decadent and old, yet bore new thinking of modernism including fresh comprehensions of clay, firing, colour elements, and form seeking. The art of ceramic is somewhat repositioned in the modern society.

Yet, in modern art, hierarchically, ceramic is not an artist’s main medium. The practitioners in ceramic are under the greatness of painters and sculptors who use ceramic in their leisure times. For instance, there was Picasso who once worked on the form of pottery in certain Spanish studio. He used ceramic as one of alternatives for his works, to gain new esthetical experience. In Indonesia, similar modus had done by the painters such as H. Widayat and Iwan Koeswanna in the 1980s.

The emergence of ceramic art in Indonesia has signified through the establishment of pottery major in the Faculty of Fine Art and Design, ITB, in 1963. 1) It gave the students chance to learn academically on how to concept, shape, and process clay into ceramic. The relevance of ceramic studies was to meet the needs of art expression with specified material, in relation with the fact that the culture of pottery making or ceramics spreading thousands of years ago in every parts of the world is now continuously developing.

When industrial revolution came to Europe, ceramic had gone through industrialization and they were manufactured to meet the needs of the people, as tiles, domestic appliances, to technology equipment. For art pieces and decorations, ceramic is still claiming its position. In Asian cultures, ceramic gains wider place and even important in some cases, in relation with both functions and rituals. It reflects that clay availability and other material also have triggered ceramic culture in the first place. To mention some cultures such as China, Persia, and Japan, ceramic has blending into the live of the inhabitants as the part of their culture identities. 2)

Some Aspects in the Practice of Modern Ceramic Art in Indonesia
In its journey, the development of modern fine art is sustained by the emergence of universities. 3) As happens in the ceramic art in Indonesia, ITB’s Faculty of Fine Art and Design (or FSRD-ITB for short) has graduating new talents that absorbed later on by ceramic industry or ceramic development centre, or even establishing their own studios producing domestic appliances in limited numbers. Only small parts of these talents working on their individual pieces and making them into exhibition, such as the late Hildawati Soemantri Lengganu and Bambang Prasetyo, in the 70s and the 80s. Their works were very modern with none following the tradition of pottery ceramics.

Their works reflect more to individual spirit, presenting the forms that are more to abstract–formalism. As stated by the author Carla Bianpoen, Hildawati was exhibiting a ceramic installation in 1976, and it was not exaggerating to say that she named Hildawati as an Indonesian mother of modern ceramic art. In 1976 Hildawati also established a ceramic studio in the Jakarta Institution of Arts Education (Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta or LPKJ) or Jakarta Arts Institute at the present time. Later on, she went to USA to continue her study in history and graduated with doctoral title achieved through her research of Majapahit potteries in Trowulan. 4)

Hildawati gave birth to some artists who were her students in IKJ such as the late Suyatna and Lidya Poetrie. Suyatna pursued his ceramic study in Japan and drilling on the Japanese ceramic making tradition that gains special place in Japanese society and has existed in the long run. Suyatna established a ceramic studio in Tangerang afterward and gave lecture in IKJ once in a while. Suyatna’s pieces tend to get closer to pottery tradition, yet, technically, his wheeling and glazing or the colouring process are more expressive in terms of adapting the technique and methods of Japanese traditional ceramics as seen in legendary ceramic artist Shaoji Hamada. For him, this behaviour has become an individual process, from processing the clay, glazier material, to the Kiln.

Another stands out ceramic artist and acknowledged far and wide by Indonesian art societies is F. Widayanto. The graduate from ITB ceramic department started from establishing a studio specified in making unique ceramic appliances. Then, he had an exhibition showcasing ceramic sculptures based on Javanese wayang characters. Widayanto is a ceramic artist who regularly held his exhibition and presenting thematic pieces during the 1990s and in the 2000s. His artistic ability to shape figures from clay and glazier application has made him an artist who is able to combine the Javanese culture expression with stinging modern spirit.

In the 90s, a ceramic artist Liem Keng Sien established a non-formal education in the form of ceramic course in his house in Menteng, Central Jakarta. Keng Sien learned the ceramic making in Belgium and has particular interest of available natural material in Indonesia. His idealism is always reflects in his pieces, such as his colour selection, mineral and clay. His students are encouraged to open their own studios and self-dependent as a ceramic artist. Those who are succeeded to have their studios are Evy Yonathan, Ira Suryandari and Nia Gautama.

The emergence of various pottery ceramic studios or individuals occurred in the end of the 1990s, from courses and graduated from ITB, ISI Jogja and IKJ. It is recorded that the access to the materials and equipment were easier when such ceramic studios mushroomed. When the pioneers started, the materials and equipment such as kiln, clay, glazier materials, and so forth, were considered rare. They had to order from aboard or making it themselves, using fireproof bricks for high temperature firing fuelled with kerosene or diesel fuel. The easiness was gained from the effort of some people in making portable, gas-fuelled kiln.

One of those pioneers was Asmudjo Jono Irianto who was also a lecturer, artist, and curator. His compact yet affordable kilns gained positive responses and yielded numerous orders from young artists. His kiln was space saving and quite convenient for an artist who lived in a small housing complex, yet without any dangerous pollutant. Asmudjo built a kiln by utilizing available sources, from ceramics supplier for ceramic industries and manufacturers. And so were colouring materials and other mixings that could be used directly, had become main supporters of ceramics art practice.

Contemporary Ceramics Art
In the 1990s, the atmosphere of Indonesian art had entered significant era. Not only the issues around post–modern culture started to rise, but also some distinguished art events. To mention some of the events, there was an exhibition showcasing the pieces from non-block countries in National Gallery, and in the end of 1992, there was Biennale Jakarta IX. It was for the first time that Jim Supangkat as the curator showcased tens of artists presenting installation idioms, mixed media, new media, and so forth. This exhibition was somewhat reminiscing the events happened in the 1970s when Jim Supangkat and colleagues held an exhibition as a protest towards fine art elitism. New Art Movement (Gerakan Seni Rupa Baru or GSRB), recorded by the late Sanento Yuliman, had opened new awareness to the fine art practitioners towards new concept around art environment, installation, popular art absorbent, commercial world and mass media, and the involvement of art into social and environment matters. Their trends included the experimentation of various uncommon materials, techniques, and shapes, and unusual to the sight, in the expression of fine art. 5)

In ITB ceramic studio, this spirit had been contagious, inflicting the last year students. Clay installation pieces made by Andar Manik—a student of ceramic studio, had emerging new awareness toward other students around the matter of material and time characterization when the clay dried, left to be cracked and fell from the wall. Those occurence could trigger an art concept. This kind of behaviour was on the contrary of ceramic arts conventional disciplines, where firing process becomes one of the most important aspects. Yet, countless ceramic students, such as Titarubi, later on demonstrated the works outside such convention and disciplines that previously shown by the pieces made by Andar Manik. She combined ceramic installation with performance art, letting the ceramic statue fell from the pedestal—melting ice block.

The mix between traditional rites in particular society’s culture and modern art expression presented by an artist who was also a lecturer from ITB, the late Hendrawan Riyanto (1959–2004). His pieces were not only made of three-dimensional potteries with bamboo construction, but also a combination with performance art that shared slight similarity with a ritual done by a shaman. Based on his understanding towards high formality, Hendrawan was able to process the pottery objects bound with metal wire included in the firing, thus there were spontaneous cracks on the contour owing to natural deformation yet obviously harmonious. The peak was when he presented a real-sized buffalo statue made of red clay. In Hendrawan’s pieces, he frequently asks us to re-contemplate on eastern tradition and cultural values in more poetic gestures and language.

The works mentioned the last seemed to bring the practice of ceramics art into grey area where the cross of cultural signs and the forms of art were continuously linking and exchanging identities, becoming the reflection of post-modern fine art. It does not bring about the process of hybrid in the culture and art, and gives more opportunity to ceramics practitioners for more medium of expression. Somehow, some groups or communities view ceramics art as immature and does not have any contribution in the long history of fine art. Eventually, little by little, practitioners’ esteem is growing continuously, especially for the young artists.

Thanks to its ‘marginalized’ position, some of the ceramics artists do not refer to a single point of view, and they are actively having ceramics exhibition, both domestic and international. Contemporary ceramics art is in between–-borrowing the term from Sanento—‘high art and low art’. As an art practice, it contains the elements made by both modern culture and its academy model. Yet, it uses basic material and the method referring the long history of ceramic making. 6)

Contemporary Ceramic Biennale
This Indonesia’s first ceramic biennale are based on some presuppositions. The first is escalating activities on contemporary arts exhibitions for the past few years give more spaces to the object pieces and statues with ceramic as the medium, be it the main medium or takes part on certain elements in the pieces. The second is the emergence of new thoughts and comprehension toward the world of fine arts and ceramics art practitioners. International forums about Asian ceramics art are budding, especially in Taiwan and Korea; and so does interaction between ceramics artists are growing along with easier access to communication and information. They have become more aware on how to deal in social field (capital) of fine art nowadays, in the context of local, regional and international. The third is more vast variations ceramics art idioms that will continuously developing and become a potential for public to appreciate it further, and how ceramics world gives meaning to the living aspects of the present culture in the society.

The idea to make a ceramics exhibition that reach greater scope was once initiated by the pioneers such as Hildawati, Suyatna, and Liem Keng Sien. There were some big events of ceramics exhibitions, took place mostly in Jakarta; such as the exhibition of young Indonesia ceramic artists in National Gallery with Asmujo J. Irianto and Nurdian Ichsan as the curators in 2004. This event was somewhat unveiled the potential of some young ceramic artists with their works that free from the boundaries of pottery art, and even from the nature of such medium. Therefore, Jakarta Contemporary Ceramic Biennale (JCCB) #1 will become a momentum as biannual big scale event for the practitioners and art critics, especially ceramic; not only locally, but also in the fine art mapping of South-east Asia and worldwide.

In JCCB #1, there are some ceramics practitioners from various cities in Indonesia and from Singapore, Malaysia, Thailand, Philippine, Netherlands, Italy, USA, and Australia. To mention some backgrounds of the ceramics presented, there are pottery tradition as seen in the pieces by Ahadiat Joedawinata and Hadrian Mendoza (Philippine) in the shapes of wood-firing bottle shapes; Mohd Roslan Ahmad (Malaysia), Endros Sungkowo, A.A Ivan W.B, Marcello Massoni–Michella Foppani–Hillary Kane from Gaya Ceramic Centre, Bali, with raku firing. The pieces with statues as the object are shown by F. Widayanto, Noor Sudiyanti, Endang Lestari, Kang Sri Hartono, Lie Fhung, Ira Suryandari, Evy Yonathan, Ika W Burhan, Mirjam Veldhuis (Netherlands), Shamsu Mohamad (Malaysia), Umi Baizurah (Malaysia) and Krisaya Luenganantakul (Thailand) that present the exploration gestures and the process of ceramics statues from the expression of personal world.

Albert Yonathan presents installation tendency with the configuration of contemplative figures. And so are other installation pieces made by Ponimin, Taufiq Panji Wisesa, Tisa Granicia, Nia Gautama, Nadya Savitri, Titarubi and two non-ceramics sculptors such as Wiyoga Muhardanto’ and Handiwirman Saputra’s artworks. They combine various methods and materials from shaping to handbuilding. Ferry Pharama and Harry Mahardika etch the clay surface, while Nurdian Ichsan presents interactive terracotta installation with the visitors. Herra Pahlasari and Tromarama present video works in series of industrial ceramics objects. Each of them presents the narration of life from the corridors of daily domestic appliances made from ceramics.

From these works of ceramics presented in ceramic biennale, it is hoped that the public could appreciate on how varied and vast the nowadays ceramics art, be it in the scope of art craft to conceptual art and new media. It is wished that JCCB become a new agenda of cultural event in Jakarta and in Indonesia. Supported fully by North Art Space and Jaya Ancol, JCCB will also leave new history for the development of Indonesian fine art globally. ***

1. http://www.fsrd.itb.ac.id/?page_id=3. Ceramics art studio established by Prof. Eddie Kartasubarna.
2. http://en.wikipedia.org/wiki/Ceramic_art
3. Dua Seni Rupa, Sepilihan Tulisan Sanento Yuliman. Edited by Asikin Hasan. Yayasan Kalam, 2001, Jakarta p. 59.
5.  http://id.wikipedia.org/wiki/Institut_Kesenian_Jakarta
6.   Sanento Yuliman. Op.Cit. Hal. 60.
7. Sanento Yuliman, Dua Seni Rupa. Op. Cit. Hal 23 – 28.

Advertisements