Press

Articles

Biennale sheds new light on ceramics

Anissa S. Febrina , The Jakarta Post , Jakarta | Sat, 12/19/2009 1:03 PM | Headlines

Take some earth, shape it into the desired form, burn, glaze and dry it under the sun, that’s how complicated the art of ceramics is.

Yet, ceramics are still a marginalized medium in the art world. A joint exhibition will attempt to convince art aficionados that the earthen material is actually as experimental and as expressive as other media.

Starting today, the Jakarta Contemporary Ceramics Biennale at North Jakarta’s North Art Space, involving 40 foreign and local artists, is perhaps the first of its kind in Southeast Asia.

“More and more people are starting to appreciate ceramic art. We’re not only trying to display works of artists specializing in ceramics, but also of those who have chosen to experiment with ceramics this time around,” exhibition curator Rifky Effendy said…(read more)

Highlights from the first Jakarta ceramic biennale

Carla Bianpoen ,  Contributor ,  Jakarta   |  Thu, 12/31/2009 10:28 AM  |  Arts & Design

Hidden Growth VIII by Lie Fhung. JP/Carla BianpoenHidden Growth VIII by Lie Fhung. JP/Carla Bianpoen

In 1976, the late Indonesian ceramist Hildawati Soemantri broke through all conventions by holding an installation, the first ever in Jakarta, consisting of broken ceramic parts to reveal life’s fragile state.But while she proved ceramics to be a worthy medium for personal expression, it has remained in the backseat of contemporary art.
Curators of contemporary art like Asmudjo Jono Irianto and Rifky Effendy who studied ceramics at the Bandung Institute of Technology, have been actively promoting the medium, curating exhibitions of both established and upcoming ceramists. Initiating the first Jakarta Contemporary Ceramics Biennale, they wish to focus the attention on ceramics as a legitimate medium in contemporary art. Running from Dec. 19, 2009 to Jan. 20, 2010 at the North Art Space Jakarta, the biennale, with its subtitle “Ceramic Art: In Between”, suggests the curators are aware that some of the works may not be fitting for a biennale exhibition.Nevertheless, the many fine pieces of ceramic art highlight a variety that many would not have expected in this medium. Some people might wonder why there should be a special biennale of works made in a certain medium, when contemporary art includes many mediums. Highlights of the exhibition include some of the finest pieces of ceramic art, sometimes combined with other materials, such as the works by Indonesian born, HK-based Lie Fhung (b. 1969), whose solo exhibition “Flight” at CP Artspace in 2005 and “Corporeal Dream” at SIGIarts Gallery earlier this year were a testament to both her refined skill and her ability to visualize the conceptual through the medium of ceramics, combined with other materials.
The same can be said of Titarubi (b. 1968) whose visual expression through ceramics has been featured in various exhibitions. In this biennale, Titarubi brings a ceramic sculpture featuring a child’s head covered with Arabic script. It is a visualization of her concern relating to the religious education of her children in school. …( Read More )

Seni Keramik dalam Perkembangan Paling Mutakhir Dipamerkan di Pasar Seni
Minggu, 20 Desember 2009 | 15:22 WIB

Laporan wartawan KOMPAS Yurnaldi

JAKARTA, KOMPAS.com – Ingin tahu bagaimana seni keramik dalam perkembangan paling mutakhir di 40 negara di dunia, termasuk Indonesia, sediakan waktu untuk mengunjungi pameran bertajuk Jakarta Contemporary Ceramics Bienalle (JCCB) 2009, di Galeri North Art Space, Pasar Seni Ancol, Jakarta. Pameran yang berlangsung hingga 20 Januari 2010 itu memamerkan karya-karya dari 40 perupa keramik internasional dan nasional, antara lain Belanda, Australia, Italia, Amerika Serikat, Singapore, Malaysia, Philipina , dan Indonesia.

“Biennale Keramik pertama di Asia Tenggara ini menguak potensi para perupa keramik muda, dengan karya-karya mereka yang membebaskan diri dari batasan-batasan seni keramik pottery bahkan terhadap nature medium itu sendiri,” kata kurator Rifky Effendy, Minggu (20/12/2009).

Mencermati pameran, karya keramik yang disuguhkan mempunyai keragaman latar: seperti karya yang berbasis pada tradisi pottery seperti karya Akadiat Joedawinata, Hadrian Mendoza (Philipina) dengan bentuk botol-botol bakaran kayunya, Mohd Roslan Ahmad (Malaysia), Endro s Sungkowo, AA Ivan WB, Marcello Massoni-Michella Foppani-Hillary Kane dari Gaya Ceramic Centre, Bali, dengan bakaran rakunya…(read more)

Wajah Seni Keramik Indonesia

Selasa, 22 Desember 2009 | 08:53 WIB

TEMPO Interaktif, Gedung-gedung dan tugu Monas berdesakan dalam perahu. Di pinggir perahu itu berderet mobil dan rumah-rumah kecil–juga berdesakan. Diberi judul Bahtera Nabi Noeh, karya berbasis patung milik Sri Hartono itu langsung menyeret kita dalam problem klasik Jakarta tiap tahun, yakni banjir.

Ini adalah salah satu karya yang dipamerkan dalam Jakarta Contemporary Ceramics Biennale #1 di Galeri North Art Space, Ancol, Jakarta. Event dua tahunan yang berlangsung hingga 20 Januari mendatang itu adalah pameran biennale keramik kontemporer pertama di Asia Tenggara.

Sekitar 40 seniman keramik Indonesia dan luar negeri terlibat dalam pameran ini. Dari luar negeri ada Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Belanda, Italia, Amerika Serikat, dan Australia.

Sebetulnya, pameran ini lebih terlihat sebagai upaya memetakan wajah seni keramik kontemporer Indonesia. Sebab, sebagian terbesar yang ikut dalam pameran ini adalah seniman Indonesia.

Menurut Asmudjo Juno Irianto, sang kurator, awalnya pameran ini memang diniatkan sebagai <I>biennale<I> para seniman keramik Indonesia. “Namun beruntung tawaran untuk melibatkan beberapa seniman keramik dari negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina, disambut baik,” tulis Asmudjo dalam katalog pameran…(read more)

Jakarta Contemporary Ceramics Bienalle

Laporan: Kompas.com/C19-09

Minggu, 20 Desember 2009 | 15:54 WITA

JAKARTA, TRIBUN – “Jakarta Contemporary Ceramics Bienalle #1, Ceramic Art : In Betweeen” untuk pertama kalinya di Asia Tenggara diselenggarakan di Galeri North Art Space, Pasar Seni Ancol, Jakarta, Sabtu (19/12/2009). Bienalle ini merupakan bentuk penghargaan sekaligus apresiasi kepada para perupa keramik.

Untuk pertama kalinya, JCCB memamerkan karya-karya dari 40 perupa keramik internasional dan nasional. 40 perupa keramik itu datang dari Belanda, Australia, Italia, Amerika Serikat, Singapore, Malaysia, Philipina, dan Indonesia.

Dalam sambutannya, Direktur Utama PT. Pembangunan Jaya Ancol Tbk, Budi Karya Sumadi mengatakan bahwa pemilihan tema keramik ini sendiri tidak lepas dari minimnya apresiasi yang diberikan kepada para perupa keramik dibandingkan dengan karya seni lainnya.

“Dengan diadakannya Bienalle ceramic ini diharapkan akan memacu perkembangan seni rupa keramik yang telah memberikan suatu nilai tambah, nilai seni, dan estetika terhadap materi tanah liat menjadi sebuah karya yang luar biasa maupun apresiasi dan minat masyarakat terhadap seni keramik sebagai salah satu cabang seni yang tertua di dunia,” ucap Budi saat membuka JCCB #1 di North Art Space Gallery, Ancol, Jakarta…(read more)

KORAN TEMPO

Wajah Seni Keramik Indonesia

Biennale keramik pertama di Asia Tenggara diselenggarakan di Galeri North Art Space, Ancol.

Gedung-gedung dan tugu Monas berdesakan dalam perahu. Di pinggir perahu itu berderet mobil dan rumah-rumah kecil–juga berdesakan. Diberi judul Bahtera Nabi Noeh, karya berbasis patung milik Sri Hartono itu langsung menyeret kita dalam problem klasik Jakarta tiap tahun, yakni banjir.

Ini adalah salah satu karya yang dipamerkan dalam Jakarta Contemporary Ceramics Biennale #1 di Galeri North Art Space, Ancol, Jakarta. Event dua tahunan yang berlangsung hingga 20 Januari mendatang itu adalah pameran biennale keramik kontemporer pertama di Asia Tenggara.

Sekitar 40 seniman keramik Indonesia dan luar negeri terlibat dalam pameran ini. Dari luar negeri ada Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Belanda, Italia, Amerika Serikat, dan Australia.

Sebetulnya, pameran ini lebih terlihat sebagai upaya memetakan wajah seni keramik kontemporer Indonesia. Sebab, sebagian terbesar yang ikut dalam pameran ini adalah seniman Indonesia…( Read More )