Ponimin

In the process of culture, a certain community usually work together to organise an event by eating nasi tumpeng (yellow rice shaped like a cone). The cone shape symbolises the teaching of holiness, that is the lesson about the macrocosmic and microcosmic relationship. In the concept of tumpeng event, we were inherited with the values of togetherness, equality, tolerance, and respect of people’s rights. Having (eating) tumpeng together teaches us the social culture in getting the one’s right depending on his/ her responsibility, so rights are evenly given. The top part of the nasi tumpeng is for a leader, a respected chief, or the class of wong agung (the upper level class) in the community because they are considered as the ones who are respected in their community. Meanwhile, the middle part of the nasi tumpeng will be given to the next class below wong agung that is more in portion as there are many in number who have it. Therefore, the shape of the bottom part of the nasi tumpeng has bigger capacity of yellow rice. This part is the lower class’ (wong alit) right, that is a social community with more people compare to those joining the event.

Nowadays, having nasi tumpeng event in a social group is actually practicing cultural deception. This social phenomenon has inspired the artist to visualise it in a form of aesthetic expressions: a ceramic installation titled “Ceremonial of Having Meals with upside down yellow rice cone” presented in a form of a group of ceramic human sculptures showing them fight in gigantic and small steaming pots (where the yellow rice is cooked) that is composed in a ceramic installation. Visually, it has a contradictory aesthetic meaning because of the cone composition form. The cone shape part is made of a bamboo basket with a diameter that is wider in the composition of fewer sculptures, while the top part of the cone is composed with many more humans. It illustrates the grass root community that are fighting over the top part of the nasi tumpeng, which is visually a contradictory aesthetic composition (against stability).

Works


“Ceremonial of Having Meals with upside down yellow rice cone”. 2009

Mix Media and ceramic Installation. Various Dimension.

Exhibition View

Statements

Dalam proses budaya “kenduri nasi tumpeng ” (hajatan makan bersama).ini biasanya, suatu kelompok masyarakat secara bersama melakukan hajatan makan nasi kuning berbentuk tumpeng (nasi kuning di bentuk kerucut). Bentuk nasi tumpeng bermakna simbolis yang luar biasa. Dari padanya kita diwarisi sebuah nilai kebersamaan, pemerataan, keadilan,toleransi dan menghormati hak-hak sesama. Menyantap (makan) tumpeng secara bersama adalah mengajarkan sosial culture dalam mendapatkan haknya sesuai tanggung jawab yang diembannya . Bagian dari ujung nasi tumpeng merupakan hak santap pimpinan, pemuka atau lapisan masyarakat golongan wong agung. Karena mereka yang dianggap memiliki kedudukan. Sementara pada lapisan masyarakat berikutnya akan mendapatkan nasi tumpeng bagian dibawahnya yang jumlahnya lebih banyak karena kapasitas masyarakat (wong alit )yang menyantapnya juga lebih banyak..
Betapa hebatnya leluhur kita di masa lalu menciptakan budaya dg nilai filosofis tinggi untuk diwariskan kepada anak generasi berikutnya .Akan tetapi generasi berikutnya ini telah banyak mengkhianati nilai mulia kenduri tumpeng. Kenduri tumpeng dilakukan dengan melawan nilainya (value figthing). Karena implementasi nilainya adalah justru value kontradiktif ;Yaitu merajalelanya sikap keserakahan kelompok masyarakat atau individu yang sedang memiliki kekuasaan lebih tinggi (menjadi golongan Wong agung ) didalam lingkungan kelompoknya .Mereka menggarong jata nasi tumpeng kenduri masyarakat lemah (wong alit ).Karena masyarakat akar rumput dengan jumlah yang lebih banyak malah menyantap tumpahan dan ceceran ujung nasi tumpeng kenduri yang terbalik sisa santapan, dengan saling berkelahi antar sesamanya. Ini adalah realta sosial yang terjadi dimana-mana, Dalam kelompok sosial sekarang Melakukan kenduri nasi tumpeng adalah melakukan cultural deception.
Fenomena sosial ini telah menggelitik emosional estetik saya untuk menvisualkan dalam bentuk ekspresi estetik keramik isntalasi berjudul ‘kenduri di tumpeng terbalik” “- Ceremonial of Having Meals with upside down yellow rice cone” yang diwujudkan dalam bentuk sekelompok patung manusia keramik dengan ekspresi saling berkelahi di kukusan raksasa dan kukusan kecil (tempat menanak nasi tumpeng) yang dikomposisikan dalam bentuk keramik instalasi. Secara tampilan visual bermakna estetik yang kontradiktif karena cone composition form. Bidang bentuk kerucut terbuat dari keranjang bambu yang berdiamater lebih lebar di komposisikan dengan jumlah patung yang lebih sedikit, sedangkan pada bidang ujung kerucut di komposisikan patung manusia dengan jumlah yang lebih banyak .(sebagai gambaran masyarakat akar rumput yang sedang berebut ujung nasi tumpeng , yang secara visual adalah komposisi estetik kontradiktif (melawan kemapanan).

Biodata

Pendidikan

Institut Seni Indonesia Fakultas Seni Rupa dan Desain Jurusan Kriya (Seni Kerajinan) Bidang Kayu dan Keramik, Yogyakarta.
Program Paska Sarjana (S2) UGM Program Studi Pengkajian Seni Rupa (Kriya), Yogyakarta.

Pengalaman berkesenian
Mewakili Indonesia dalam pameran senirupa kontemporer 12th Asia Arts Biennale Banglades Judul karya “Reach of no Hope”, (Departemen Budaya dan Pariwisata RI / Mewakili Pameran Seni Rupa Indonesia di Tingkat Asia) 2006

Penyaji karya seni dan penyaji makalah seminar program “ The Third Asna Clay Internasional” 2006. di Karachi Pakistan dan karya seni berjudul “Reach Of No Hope”

Penyaji karya seni dan seminar ;Judul karya ”Fight Against Evil” (DISTRUCTION OF KNG RAHWANA )dalam program ”Exploration Terracotta internasaional” di Habitat center Galery New Delhi India Pebruari 2009.

Mewakili pemerentah propinsi Jawa Timur pada program
”7th China International Garden and Flower Expo” Di Kota Jinan/Sandong China judul karya: “East Java Agro Local Culture Miniatur Park”, September 2009

Penciptaan karya seni diberbagai anjungan obyek wisata Taman Safari Nasional Indonesia Prigen .panggung pementasa atraksi singa macan bertema ”Bentuk reruntuhan candi jawa kuno ” DAN DIORAMA TEROWONGAN KERETA API BERTEMA ” PERUBAHAN KEBUDAYAAN DUNA .2003

Penciptaan Karya Seni “Replika Patung Archais Percandian dan Replika Binatang Mitologis” Untuk Taman Sejarah di Obyek Wisata Jawa Timur Park. (karya seni 2004).” / Sarana Hiburan dan Edukasi di Obyek Wisata Tersebut) 2002

Penciptaan Karya Seni Patung Replika 7 Arsitektur Keajaiban Dunia di obyek wisata “Taman Wisata Bahari Lamongan”. (Obyek Wisata Jatim Park / Sarana Hiburan dan Edukasi di Obyek Wisata Tersebut) 2005

Gelar Seni Rupa Jawa Timur di Taman Budaya Surabaya Judul karya Seni “Menggapai Harapan Hampa”, Taman Budaya Jawa Timur 2006

Pameran senirupa kontemporer Nusantara di Galery Nasional pada pameran Perupa nusantara. Judul karya “Meniti Tangga Kosong”, 2005