Artists in Residence of The 4th JCCB

Artists in Residence of The 4th JCCB

Salam Sejahtera,

Dalam rangka mempersiapkan penyelenggaraan Jakarta Contemporary Ceramics Biennale ke 4 (The 4th JCCB ) yang akan diselenggarakan di Galeri Nasional Indonesia , Jakarta pada tanggal 7 Desember 2016 – 22 Januari 2017 mendatang, kami  mengundang para seniman sebanyak 21 seniman, baik yang berasal dari Indonesia maupun internasional untuk mengerjakan karya-karya mereka selama satu bulan , pada periode mulai bulan Agustus hingga November 2016.

Jakarta Contemporary Ceramic Biennale sejak penyelenggaraan yang ketiga, telah menyertakan karya-karya yang dibuat melalui program residensi seniman. Program residensi bertujuan melibatkan secara langsung seniman dengan lingkungan, masyarakat, dan budaya Indonesia. Menariknya, program residensi seniman melibatkan host di beberapa daerah dengan karakter dan lingkungan yang berbeda pula. Host terdiri dari sentra produksi tradisional, studio mandiri, institusi pendidikan, dan pabrik semi industri. Baik host yang berada di wilayah rural mau pun urban memiliki karakter, sumber daya dan fasilitas, serta keunikan tersendiri.

Program residensi terbuka untuk seniman-seniman yang memiliki ketertarikan akan budaya Indonesia, menyukai atmosfer yang baru dan berbeda dalam berkarya, serta terbuka dengan berbagai kemungkinan kreatif. Pemilihan seniman didasari pada kualitas karya, latar belakang, serta pengembangan karir. Karya yang dibuat diharapkan merupakan perpaduan dari personalitas seniman dan tanggapan terhadap kondisi lingkungan selama melakukan residensi.

English

Greetings,

For the preparation of the 4th Jakarta Contemporary Ceramics Biennale (JCCB) , which will be held from December 7 , 2016 to January 22, 2017 At The National Gallery of Indonesia, Jakarta, We invited 23 artists from National and Internationally to held one month residency program from August to November 2016.

At its third edition, Jakarta Contemporary Ceramics Biennale exhibited works created by artists involved in JCCB’s residency program. The program now aims to connect artists with Indonesia’s environment, people, and culture. JCCB’s residency program is unique in that it involves hosts located in diverse locations with diverse characters, cultures, and environments. They consist of centers of traditional ceramics production (or ceramic villages), independent studios, education institutions, and semi-industrial ceramic makers/factories. Rural and urban hosts have their respective characteristics, materials and resources, as well as facilities and other unique elements.

Below we include the artists profile

Angie Seah (Singapura, 1979)

Angie Seah

Tinggal dan bekerja di Singapura, Angie Seah adalah seorang perupa lintas medium yang banyak mempergunakan keterhubungan di antaranya sebagai perpanjangan tangan ekspresi keseharian. Dari karya-karyanya, tercermin nuansa lingkungan sosial manusia yang kaya akan kehidupan itu sendiri. Entah dalam berbagai aksi performatif, happenings yang ritualistik, atau juga dalam bentuk-bentuk yang lebih berdiam, unsur-unsur yang disusunnya menjangkau sambil sekaligus mengelilingi audiens ke dalam konstruksi dunia tanda pribadinya yang khas. Lewat karya-karyanya yang sedemikian rupa, Angie mengingatkan kita tentang bagaimana makna berjalin dalam penempatan benda dan tanda di antara gapaian dan aktivitas pribadi dengan jejaring yang dilintasinya dalam kebersamaan: menjadi khas selagi mencari pertautan wujud, gagasan, serta sensasinya sendiri di tengah kita.

Partisipasi Angie Seah dalam program residensi JCCB4 adalah atas rekomendasi dari Ahmad Abu Bakar (SG). Ia akan beresidensi di FSRD – ITB, Bandung, pada Oktober – November 2016.

Living and working in Singapore, Angie Seah is a multidiscipline artist who uses much of the interconnectivity between mediums as an overarching on everyday human expressions. Her works mirrorred bits of the social environmental surroundings, densely filled with a liveliness of its own. Whether through performances, ritualistic happenings, or on more stationary forms of work, her choice of elements reaches whilst encircle the audience into a unique world of signs. Angie’s works resound a sense of how meanings interconnect between the placement of things and signs, all through the proximity of personal being, activities, and web of interaction with others. They transform into her own unique personal world of signs while also searching for connection between the physical, ideal, and sensuous entity among people.

 Angie Seah’s participation in the JCCB4 residency program was on the recommendation of Ahmad Abu Bakar (SG). She will be doing her residency in FSRD-ITB, October – November 2016.

Arya Pandjalu (Bandung, 1976)

AryaPanjalu

Dikenal lewat penggambaran-penggambaran hibridanya antara tubuh manusia dengan burung sebagai puncak kepala, Arya Pandjalu banyak melakukan pencerminan atas hadir dan terus berkembangnya cara hidup organik folkspeople di tengah masyarakat kita. Menggabungkan cara bercerita pribadi dengan cara bercerita berkelompok pada masyarakat, Pandjalu menyodorkan manusia sebagai bagian dari dunia mahluk hidup yang bertumbuh, menempati sisi berseberangan dengan aktivitas mekanis ciptaannya sendiri. Penggambaran Pandjalu menjadi semacam ruang jeda reflektif yang membayangkan dunia serba bercampur dan lesap antara kegiatan manusia dengan alam sederhana di sekitarnya, selagi juga menyiratkan kehalusan kontrastif. Sebagaimana ia dengan halus mensimulasi warna-warna organik di alam dalam tekanan nada pastel yang sesungguhnya sintetik.

Arya Pandjalu akan menjalankan program residensi JCCB4 di Jenggala, Bali, pada September 2016.

Better known for his hybridized depictions of bird-headed men, Arya Pandjalu often looks into the existence, growth, and organic adaptibility of the common-rural folk in its increasingly urbanised surroundings. Combining personal story telling with that of the people’s, Pandjalu puts the human subject forward in its conjunction among other living creatures in nature, vis-a-vis with his own mechanized activities. Pandjalu’s depictions becomes some sort of a reflective interstice, which imagines the world as thoroughly interweaved, hybridised between man’s activities with his simple natural surroundings, while also implying a subtle contrast through his way of emulating organic colours in nature, that are synthetic in pigment.

 Arya Pandjalu will be doing his JCCB4 Residency program in Jenggala, Bali, September 2016.

Awangko Hamdan (Malaysia)

AwangkoHamdan

Berlatar belakang seniman keramik sekaligus pengajar dan peneliti di Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS), Awangko Hamdan tampil sebagai perwujudan jelajah keramik yang mengutamakan eksplorasi bentuk dalam khazanah teknik-teknik konservatif. Bagian besar olah karya Hamdan dihasilkan dari pembakaran suhu menengah, dengan karakter kilap metalik redup menggemakan bentuk-bentuk abstrak ke dalam dinamisme organik yang khas. Sebagai peneliti, Awangko Hamdan juga secara khusus mengembangkan kepakaran atas bidang disiplin kria atau crafts. Karya-karyanya telah ditampilkan dalam berbagai pameran mancanegara, selain juga cukup sering dipamerkan di negara basisnya, Malaysia, sebagai bagian dari kelompok kawakan yang wajib tampil bila menyangkut keramikus dan seni keramik Malaysia.

Awangko Hamdan akan menjalankan program residensi JCCB4 di Studio Ahadiat Joedawinata, Bandung, pada Agustus 2016.

Having a background as a ceramic artist and lecturer-researcher in Universitas Malaysia Sarawak (UNIMAS), Awangko Hamdan emerges as an embodiment on ways of exploring ceramics through formal and conservative technical horizon. Most of his works are produced through mid-firing process, with a dimmed metallic character resonating his abstract forms to a particular, personal, organic dynamics. As a researcher, Hamdan also specialise on the crafts. His works has been featured in an array of international exhibitions, while also consistently being included in exhibitions in his home country, Malaysia, as part of a mandatory group of artist widely regarded as representatives of Malaysian ceramics.

 Awangko Hamdan will be doing his JCCB4 Residency program in Ahadiat Joedawinata’s studio, Bandung, August 2016.

Bojana Križanec (Slovenia, 1973)

Bojana Krizanec

Bojana Križanec adalah perupa keramik yang tinggal dan bekerja di Rogatec, Slovenia. Ia lulus dari program studi patung dan keramik di Famul Stuart High School of Art, Ljulbjana, pada tahun 2007. Karya-karya Križanec utamanya mempergunakan teknik pembakaran raku, yang dikenal menghasilkan akhir yang tak terduga. Ini terutama dimanfaatkannya untuk mencapai karakter kasar dan gelap, dalam kualitas relikui khas barang antik yang hadir pada karya-karyanya. Karakter ini menyelimuti bentuk-bentuk geometris sederhana nan tegas, dan berpadu dengan gambar-gambar pola dan bentuk tradisional khas Eropa Timur. Karya Križanec menggemakan nuansa sejarah Eropa pramodern, selagi juga menyejajarkannya dengan dasar-dasar yang lebih formal dan modern.

Dalam program residensi JCCB4, Križanec akan meneruskan penelusurannya terhadap seni tradisi dan unsur-unsur kria. Ia merancang proses untuk menghubungkan praktik kria lokal pada lokasi residensi dengan pola-pola dan motif kria Slovenia, yang akan digubahnya ke dalam bentuk-bentuk bercerita baru.

Bojana Križane terpilih melalui proses open call. Ia akan menjalankan program residensi JCCB4 di BTIKK – BPPT, Bali, pada November 2016.

Bojana Križanec is a ceramic artist living and working in Rogatec, Slovenia. She graduated from the Sculpture and Ceramics department at Famul Stuart High School of Art, Ljulbjana, in 2007. Križanec’s works utilises the raku firing technique, known to produce unpredictable results. This approach is primarily used to achieve the darkened and raw character of her ceramics, which holds a certain ancient relics quality. Such qualities dwell in simple yet bold geometric shapes, which coheres with pictorial depictions of traditional Eastern European images and patterns. Križanec’s works thus echoes premodern European history, whilst juxtaposing it on a more modern and formalistic basis.

 In the JCCB4 residency program, Križanec will continue on her exploring of traditional art and folk crafts. She plans a process which will connect the local crafts practice on the residency site with the patterns and motifs of Slovenian crafts, which shall be conveyed into new stories or narratives.

 Bojana Križanec was chosen through open call for JCCB4 residency program. She will be doing her residency in BTIKK – BPPT, Bali, November 2016.

Danijela Pivašević-Tenner (Serbia)

Danijela Pivašević-Tenner

Lahir di Belgrade, Serbia, Danijela Pivašević-Tenner merupakan seorang perupa keramik yang kini berbasis di Neumünster, Jerman. Ia lulus dari program pascasarjana terapi seni di Berlin Weissensee School of Art pada tahun 2010. Pada tahun 2009 ia memenangkan hibah dari Yayasan Dr. Hans Hoch, dan hingga belakangan menjadi direktur artistik dari program residensi seni keramik yang diadakan yayasan tersebut di Neumünster. Karya-karyanya cenderung mempermainkan asosiasi hasil keluaran medium keramik ke dalam bentuk-bentuk lain, meninggalkan kesan tak terduga dalam mentransformasi medium serta wacana yang mengiringinya.

Danijela Pivašević-Tenner akan menjalankan program residensi JCCB4 di FSRD – ITB, Bandung, pada Agustus 2016.

Born in Belgrade, Serbia, Danijela Pivašević-Tenner is a ceramic artist currently based in Neumünster, Germany. She holds a MA in Art Therapy from the Berlin Weissensee School of Art since 2010. In 2009, she was awarded a grant from Dr. Hans Hoch Foundation, and has since held a post as artistic director of the ceramic artist-in-residence program established by the foundation in Neumünster. Her works interplays the associated output of ceramics as material and medium with altering forms, leaving unprecedented impressions on transforming medium and the surrounding discourse through various points of references.

 Danijela Pivašević-Tenner will be doing her JCCB4 Residency program in FSRD – ITB, Bandung, August 2016.

Eddie Hara (Salatiga, 1957)

eddiehara

Meski kemudian pergi dan menetap di kota Basel, Swiss, Eddie Hara selalu diingat oleh banyak orang di Indonesia sebagai figur serba cair yang memberikan tantangan dan penentangan di antara batas-batas estetika dan seni tinggi-rendah melalui keseniannya. Tampak visual lowbrow dalam karya-karyanya yang paling dikenal, hadir dalam semangat liar yang pop, dengan menampilkan dimensi kedataran dan bagian demi bagian cerah-kontras meniadakan satu titik fokus utama atau satu pokok bercerita. Menghadapinya, kita digugah untuk membedah keriuhan familiaritas di antara unsur gambar anak, citra figuratif komik, atau juga seni jalanan. Karya Eddie Hara bisa jadi hadir sebagai semacam counternarrative atas kedataran arus utama seni rupa sendiri di tengah paparan budaya populer global—menjadi sikap perlawanan dan identifikasi dengan bersifat berbatas selagi juga tidak tertata.

Eddie Hara akan menjalankan program residensi JCCB4 di Kandura Studio, Bandung, pada September 2016.

Having lived in Basel, Switzerland, for more than 20 years, Eddie Hara is always remembered in his home country, Indonesia, as a fluid artist whose works puts contest on the lines between high-art and low-art aesthetics. The low-brow visual on his most known works embodies a wild-pop sense, resounding through the flatness and multitudes of focus, rejecting a central point of view or narrative. Against it, we are intrigued to interweave through the commotion of familiarity between naive drawings, comic book-like figure images, or even street art. Eddie Hara’s works might as well functions as some sort of counternarrative on the flatness of mainstream art itself through the exposure of global popular culture—a reactionary stance and move of identifying through limits, while being subliminally idiosyncratic at the same time.

 Eddie hara will be doing his JCCB4 Residency program in Kandura Studio, Bandung, September 2016.

 

Elodie Alexandre (Perancis)

elodiealexander

Elodie Alexandre merupakan perupa dan ilustrator berkebangsaan Perancis yang saat ini berbasis di New Delhi India. Ia mendapatkan gelar Master of Arts keramik dari Cardiff School of Art and Design (CSAD), Wales, Inggris Raya, pada tahun 2013, setelah sebelumnya tinggal lebih dari sepuluh tahun di Inggris sebagai penerjemah. Karya-karya Alexandre diwarnai rasa gambar yang kuat. Pilihan warna-warnanya yang cerah mengiringi gubahan penggambaran benda-benda rumah tangga dan lingkungan domestik ke dalam objek-objek keramik berukuran kecil. Karya-karyanya sekilas akan meninggalkan kesan gambar sketsa, menjadi tontonan ilustratif yang melintasi bidang dua dan tiga dimensi, mencerap keseharian, dan menyediakan cerita-cerita kecil tentangnya.

Partisipasi Elodie Alexandre dalam program residensi JCCB4 adalah atas rekomendasi dari Sarah Younan (WLS). Ia akan menjalankan program residensi JCCB4 di FSRD – ITB, Bandung, pada November 2016.

Elodie Alexandre is a French artist and illustrator currently based in New Delhi, India. She got her MA in Ceramics from Cardiff School of Art and Design (CSAD), Wales, UK, in 2013, having before lived over ten years in the UK as a translator. Alexandre’s works are filled with a strong illustrative sense. Her choice of evocative colours parallels with depiction of domestic items and enviroment, materialized in small-multifaceted ceramic objects. Her works left us with the impression of drawings, transforming into an illustrative spectacle crossing between the two and the three dimensional, whilst capturing everyday life and providing narratives thereof.

Elodie Alexandre’s participation in the JCCB4 residency program was on the recommendation of Sarah Younan (WLS). She will be doing her JCCB4 Residency program in FSRD – ITB, Bandung, November 2016.

 He Wenjue (何汶玦) (Tiongkok, 1970)

He WenJue

Tinggal dan bekerja di Beijing, He Wenjue merupakan bagian dari perupa-perupa kontemporer yang senantiasa mengangkat gagasan konseptual melalui penguatan narasi dalam unsur-unsur simbolik. Ia memegang gelar pascasarjana dalam bidang seni lukis modern dari Jilin Academy of Fine Art, kendati dalam jelajah kekaryaannya telah meluas jauh dari disiplin seni lukis dan dunia dua dimensional. Wenjue banyak mengetengahkan sikap filosofis dan upaya-upaya reflektif atas keberadaan manusia, terutama dalam caranya mempertautkan material mulia dengan sentuhan dan aktivitas manusia sendiri. Ia cukup sering memanfaatkan bahan porselen sebagai bagian dari pernyataan artistik yang sedemikian rupa, selain juga mempergunakan berbagai bahan lainnya yang meninggalkan kesan dramatis dan punya kesan istimewa dalam dimensi-dimensi yang menggugah.

He Wenjue terpilih melalui proses open call. Ia akan menjalankan program residensi JCCB4 di Studio Duria (CV Pejaten Keramik), Pejaten- Bali, pada Agustus 2016.

Living and working in Beijing, He Wenjue attests to the resounding theme in contemporary artists of the conceptual, being perceived through the strenghtening of narrative by use of symbols. He holds an MA in paintings from Jilin Academy of Fine Arts, although in exploring, his works has expanded beyond the two-dimensional limit of paintings. Wenjue often puts forward philosophical gestures and reflexive efforts on the human subject, especially on what materials perceived perennially as precious represents. He often uses porcelain, as well as other parallel materials as part of such artistic approach, leaving behind a dramatic impression through a considerably grand dimensions of works.

He Wenjue was chosen through open call for JCCB4 residency program. He will be doing his residency in Duria’s Studio (CV Pejaten Keramik), Pejaten – Bali, August 2016.

Joris Link (Belanda / Inggris, 1979)

Joris Link

Berbasis di ’s-Hertogenbosch, Belanda, Joris Link mendekati keramik sebagai unsur olahan moduler nan formal. Dengan bantuan teknologi pemodelan komputer, ia membangun komposisi-komposisi tiga dimensional yang seolah mengemulasi struktur dan pola ikatan-ikatan kimia pada tingkatan molekular. Sebagai hasil, bahan keramik seolah menjadi hilang dari karakter aslinya, menjadi modul-modul yang dicetak dengan sangat rapi—seragam dalam ketersebaran yang halus dan begitu terukur. Namun dalam program residensinya di JCCB4, Link akan bereksperimen dengan bekerja bersama dengan kriawan lokal; baik mereka yang mengolah logam, kayu, maupun tekstil, yang akan digabungkannya dengan keramik ke dalam struktur dan pola berukuran besar, dengan harapan untuk meninggalkan dampak kesan dalam skala arsitektural.

Joris Link terpilih melalui proses open call. Ia akan menjalankan program residensi JCCB4 di ISBI, Bandung, pada Oktober 2016.

Based in ’s-Hertogenbosch, The Netherlands, Joris Link makes an approach to ceramics by regarding it as material for modular-structural compositions. With computer generated designs, he build works of three dimensional compositions which seemingly emulate the structure and patterns of molecular chemical bonds. As a result, his works assumes its own autonomous character, distanced from the original ceramic characteristics by becoming very fine casted modules—subtly diffused in unison yet meticulously measured. However, in his residency program in JCCB4, Link is going to experiment by working together with local craftspeople; including but not limited to those who work with metal, wood, or textile. The results of which shall be combined with his own work on ceramics into a major structure and pattern, with the hopes of being installed to an architectural impact.

Joris Link was chosen through open call for JCCB4 residency program. He will be doing his residency in ISBI, Bandung, October 2016.

Jose Luis Singson (Filipina, 1985)

Jose Luis Singson_Photo

Tinggal dan bekerja di Manila, Singson belum lama ini lulus sebagai sarjana seni lukis dari University of the Philippines, Dilliman. Sejak masa kuliah ia telah secara konsisten bekerja dengan bahan gerabah terakota di bawah arahan profesor / keramikus Rita Badilla Gudiño. Gerabah dipergunakan Singson sebagai bagian dari lukisan, terutama dari lempung lokal batog, dengan menghadirkan kesan relief dan citra bangunan rusak terbengkalai. Singson bekerja dalam retorika konseptual yang khas dan dibagi dengan banyak perupa Filipina lainnya, di mana bahan dimaknai dan dipergunakan seiring menyusuri dinamika terprosesnya sendiri. Dalam arahan ini, ia sering mengetengahkan bentuk narasi dalam sejarah personal atau lokal lewat bahasa benda dan material, yang senantiasa berupaya untuk memperluas makna pengalaman masa kini lewat penelusuran rasa memiliki.

Jose Luis Singson terpilih melalui proses open call. Ia akan menjalankan program residensi JCCB4 di Jatiwangi Art Factory, pada November 2016.

Living and working in Manila, Singson only recently graduated as MFA in Paintings from the University of the Philippines, Dilliman. Since studying, he has consistently working with terracotta, mainly under the guidance of professor and ceramicist Rita Badilla Gudiño. Terracotta was used by Singson as part of paintings, especially those made from local batog clay, providing an impression of derelict buildings and that of a sculptural relief. Singson works in a particular conceptual rhetoric uniquely shared among Filipino artists, in which materials are given meanings and utilised while being reflected upon thoroughly. In such manner, Singson often centers a form of narrative via personal and local history of objects, and material, while consistently attempting to broaden the interpretation of contemporary experience with regard to how our sense of belonging able to develop and overarch.

 Jose Luis Singson was chosen through open call for JCCB4 residency program. He will be doing his residency in Jatiwangi Art Factory, November 2016.

 Joseph Hopkinson (Wales)

Joseph Hopkinson

Hopkinson, seorang perupa keramik dari Wales, gemar melakukan eksplorasi percampuran bahan yang menjelajahi karakter body keramik. Di antara karya-karyanya ia mampu menghadirkan keramik dalam tekstur-tekstur kasar yang membongkah, membuat olahan-olahannya nampak seperti kumpulan puing temuan dari peradaban masa lampau. Melalui keahliannya merekayasa bahan, Hopkinson memaknai keramik hingga ke tingkatan materialitas mendasar, mendekonstruksi sekaligus merekonstruksi untuk mengedepankan kecairan konteks yang mungkin dicapai oleh bahan keramik dalam seni rupa kontemporer. Pada tahun 2015 kemarin ia baru saja mendapatkan gelar Master of Arts dalam keramik dari Cardiff Metropolitan University. Bersama Elodie Alexandre, ia juga terlibat dalam proyek pameran keramik keliling Fragile in Transit! bersama dengan enam perupa keramik lainnya.

Partisipasi Joseph Hopkinson dalam program residensi JCCB4 adalah atas rekomendasi dari Sarah Younan (WLS). Ia akan menjalankan program residensi JCCB4 di Timboel Ceramics, Kasongan, Yogyakarta, pada November 2016.

Hopkinson is a Welsh ceramic artist with a keen exploration in ceramic bodies. Among his works, he is able to convey the medium into coarsely textured masses, resembling artifactual relics seemingly discovered in archaeological sites. Through the various shapes and sizes and the amount of skills displayed, Hopkinson’s works give meaning to the underlying materiality in ceramics. Thus giving way for fluidity in a broadened sense of use. He graduated recently in 2015 with an MA in ceramics from the Cardiff Metropolitan University. Together with Elodie Alexandre, he participates in the Fragile in Transit! travelling exhibition, along with six other ceramic artists.

 Joseph Hopkinson’s participation in the JCCB4 residency program was on the recommendation of Sarah Younan (WLS). He will be doing his JCCB4 Residency program in Timboel Ceramics, Kasongan, Yogyakarta, November 2016.

Kawayan de Guia (Filipina, 1979)

kawayan

De Guia merupakan salah satu perupa kontemporer Filipina yang dikenal malang melintang di medan seni rupa internasional. Berbasis di Baguio City, karya-karyanya sering hadir melalui media yang bercampur. Banyak darinya merupakan lukisan, namun ia juga sering menggabungkannya dalam hubungan dengan retorika konseptual ke dalam bentuk-bentuk instalatif, fotografi, dan video. Gagasan-gagasan dalam karya de Guia seringkali memberikan perhatian kepada persoalan yang khas dalam pertemuan di antara keinginan material urban Kebarat-baratan dengan akar bahasa dan praktik dalam kria lokal. Hal ini menjadi isu yang bergema baginya sebagai perupa berkebangsaan Filipina yang memiliki darah keturunan Jerman dan berpenampilan bule. De Guia seolah menciptakan “relikui baru,” sebagai gambaran perpanjangan interaksi dan sikap geopolitis di antara elemen pengaruh kolonial Barat dengan realita lokal yang terpraktikan.

Kawayan de Guia akan menjalankan program residensi JCCB4 di FSRD-ITB , Bandung pada November 2016.

De Guia is one of the internationally renowned contemporary artist of the Philippines. Based in Baguio City, he works with various range of media. Many of which are paintings, yet he also often combines the medium and the sense of approach with more conceptual forms of installation, photography, and video, among others. The ideas of his works keenly gives concern to the particular issue between material longings of the urbanized-Western ideal and the language and practice in local crafts. Being a Filipino artist of German descent, such concerns persists. In working, de Guia seemed to produce “new relics,” which reflects a geopolitical stance on the long history of struggle between colonial, historical, Western influence, and local practiced realities.

Kawayan de Guia will be doing his JCCB4 Residency program in FSRD – ITB Bandung, November 2016.

Ljubica Jocic Kneževic (Serbia, 1973)

Ljubica

Menetap di Belgrade, Serbia, selain menjadi perupa Kneževic juga merupakan profesor bidang keramik di fakultas seni terapan dan desain, Belgrade Art University. Saat ini ia tengah menempuh studi doktoral di tempat yang sama, dengan juga pernah belajar di bawah Profesor Harumi Nakashima di Tajimi Pottery & Design Ceramic Institute. Karya-karya Kneževic banyak memanfaatkan pilinan porselen, yang membidang dan menyatu ke dalam komposisi-komposisi abstrak ekspresif yang seperti gambar. Penggambaran ekspresif yang demikian juga seringkali tampil dalam bingkai kayu bergaya ornamen klasik Barok, memperlihatkan ekspresi multimakna yang menjangkau dan menyandingkan di antara ekspresi lampau dengan ekspresi kontemporer pada waktu yang bersamaan.

Ljubica Jocic Kneževic akan menjalankan program residensi JCCB4 di FSRD-ITB, Bandung, pada Agustus 2016.

Based in Belgrade, Serbia, aside of being an artist, Kneževic is also Professor docent of ceramics at the faculty of applied art and design, Belgrade Art University. She is currently pursuing her doctoral degree in the same institution. She has also studied under Professor Harumi Nakashima in the Tajimi Pottery & Design Ceramic Institute. Kneževic’s works come to shape from porcelain threads, forming abstract expressive compositions on the visible surface, as a result. Sometimes Kneževic also put them in wooden Baroque-themed frame, expressing tensioned and contrasted multi-meaning through juxtaposing the historical and the contemporary at the same time.

Ljubica Jocic Kneževic will be doing her JCCB4 Residency program in FSRD-ITB, Bandung, August 2016.

Maria Volokhova (Ukraina)

Maria Volokhova

Terlahir di Kiev, Ukraina, Volokhova saat ini tinggal dan bekerja sebagai perupa di Berlin, Jerman. Ia mula-mula mendalami minat di seni grafis sebelum kemudian menekuni medium keramik dan terakhir lulus dari fakultas keramik Tokyo Art University, GEIDAI, pada tahun 2009. Karya-karya Volokhova hadir mensubversi fungsionalitas teko sebagai bejana dan produk olahan keramik yang lazim. Ia menghadirkan estetika anatomis bagian dalam tubuh sebagai bentuk modifikasi terhadap gubahan-gubahan tekonya. Membuatnya menjadi bermutasi ke berbagai bentuk hibrida, dan seolah membalik persepsi luar-dalam, persoalan mengolah-menerima, serta tentang wadah dan isi.

Maria Volokhova akan menjalankan program residensi JCCB4 di PT Sango Ceramics, Semarang, pada Agustus 2016.

Born in Kiev, Ukraine, Volokhova currently lives and works as an artist in Berlin. She initially studies printmaking before later focusing in ceramics, graduating from faculty of ceramics in Tokyo Art University, GEIDAI, in 2009. Her works plays with and subverts the functionality of the teapot as a conventional ceramics product. She combines them with aesthetics borrowed from some particular anatomical features, modifying the teapot by replacing and adding features swapped with internal organs, skeletons, even fetal shapes. They become certain hybrids which challenges the perception of the inner and the outer, between processing and receiving, and about the vessel and the content.

 Maria Volokhova will be doing her JCCB4 Residency program in PT Sango Ceramics, Semarang, August 2016.

Nao Matsunaga (Jepang, 1980)

Nao Matsunaga

Dilahirkan di Osaka, Nao Matsunaga telah lama menetap dan menjadi perupa di London. Ia terakhir menamatkan pendidikannya pada tingkat pascasarjana dari Royal College of Art, Inggris, di mana ia juga menjadi pengajar tamu. Karya-karya Matsunaga memancarkan rasa tentang alam bawah sadar dan ekspresi primal. Komposisi bentuk-bentuknya yang ekspresif, yang kaya akan sentuhan jemari dalam teknik pinching, mengesankan percobaan untuk mengenali kembali kementahan abstrak alam dalam persepsi manusia yang paling mendasar. Hal ini menubuh dari perhatian khusus yang diberikan Matsunaga terhadap benda-benda dan ruang seremonial, sebagai hasil dan jangkauan alami dari usahanya untuk menyelami aspek ritualistik primitif yang terkandung di sana.

Nao Matsunaga akan menjalankan program residensi JCCB4 di Arskala Studio, Yogyakarta, pada November 2016.

Originally born in Osaka, Nao Matsunaga is an artist who lives and works in London. He graduated with an MA from the Royal College of Art, London, where he is also a visiting lecturer. Matsunaga’s work echoes much about the subconscious world and sense of primal expressions embedded in men. His works, expressively characterised with traces of pinching, suggests a gesture to grasp the raw natural abstractness in the most basic of human perception. Such aspect is embodied as result from a particular attention that Matsunaga maintains with ceremonial objects and spaces, and the primitive-universal ritualistic aspect set within.

Nao Matsunaga will be doing his JCCB4 Residency program in Arskala Studio, Yogyakarta, November 2016.

Richard Streitmatter-Tran (Vietnam, 1972)

unnamed3

Dibesarkan di Amerika Serikat, Streitmatter terlatih dalam disiplin interrelated media dari Massachusetts College of Art, Boston. Ia menjadi asisten, periset, dan pengajar pada sejumlah institusi seperti MIT Media Lab, Universitas Harvard, dan RMIT International Universities, Vietnam. Streitmatter-Tran berperan dalam pendirian DIA Projects yang menjadi panggung eksperimen dan ruang studio seni rupa kontemporer progresif di Ho Chi Minh City, Vietnam. Ia telah berpartisipasi dalam banyak pameran internasional, di antaranya pada Venice Biennale ke-52 pada tahun 2007. Di antara masanya di AS dan di Vietnam, terdapat pergeseran dalam karya-karya Streitmatter-Tran, dari yang berbasis isu dan konseptual, kepada yang berbasis studio tradisional dan keterampilan. Hal yang menjadi bertahan kemudian adalah mengenai sentralitas perhatian terhadap material, dengan mentransformasi kebiasaan mendekati secara filosofis dan diskursif untuk menjadi menyentuh dan menilai ulang langgam kebiasaan. Melaluinya, ia banyak berupaya menimbang ulang makna material dalam kehidupan sehari-hari.

Richard Streitmatter-Tran akan menjalankan program residensi JCCB4 di ISBI, Bandung, pada September 2016.

Raised in the USA, Streitmatter was trained in interrelated media in Massachusetts College of Art, Boston. He becomes a lecturer and researcher in institutions such as MIT Media Lab, Harvard University, and RMIT International Universities, Vietnam. Streitmatter-Tran was also a prominent figure in the establishment of DIA Projects, which became one of the leading experiment and studio space for contemporary art in Ho Chi Minh City, Vietnam. He has exhibited internationally, among which in the 52nd Venice Biennale in 2007. Between his time in the US and then in Vietnam, Streitmatter-Tran identifies a shift of approach in his works, formerly following a line on the conceptual and being issue based, into a return to more traditional studio and on craftmanship. What persists then, is the centralism of the material, transforming a philosophical and discursive way of approaching into getting in touch and reexamination of customs and habitude. Through it, he attempts to reconsider materials of everyday life.

Richard Streitmatter-Tran will be doing his JCCB4 Residency program in ISBI Bandung, September 2016.

Shioya Ryota (Jepang, 1978)

ryota shioya

Karya-karya Ryota, dalam kepiawaian teknis keramik yang tinggi menghadirkan kekuatan material yang mengintervensi ruang luar. Karya-karyanya yang cenderung abstrak, tidak secara khusus menyimbolkan sesuatu, namun selalu dihadirkan di ruang-ruang umum atau ruang terbuka. Darinya, ia menyandingkan pengalaman estetik sebagai momen yang teraksentuasi di atas pengalaman dan pensuasanaan sehari-hari. Dalam program residensi JCCB4, Shioya Ryota berencana untuk melanjutkan proyek HitoTema yang sudah dikerjakannya di berbagai tempat sejak tahun 2011. Dalam seri ini, Ryota membuat rekam keartefakan jabat tangan, yang dicetaknya dari menempatkan tanah liat di antara kedua tangan subyek pada tempat-tempat umum. Hasilnya akan dikumpulkan dalam jumlah besar dan disusun secara instalatif. Rekam cetakan menjadi perwakilan tentang pertukaran atau serah terima yang kita lakukan sebagai manusia.

Shioya Ryota akan menjalankan program residensi JCCB4 di ISBI, Bandung, pada Agustus – September 2016.

Ryota’s works puts material strength in interference and dialogue with the outdoors and public spaces. His rather abstract works doesn’t necessarily signify anything in particular, yet presents a resounding existence in being featured in public. In such a way, it sends aesthetic experience forward as an accentuated moment over everyday experience and atmosphere. In the JCCB4 residency program, Shioya Ryota plans to take up his HitoTema project which has been executed in various places since 2011. In the series, Ryota creates an artifactual record of hands shaking, cast from placing clay between the two hands in contact, from subjects in public places. The generated castings are then compiled in huge numbers and presented in an installative manner. The castings, then becomes a representation on the trades and reciprocations that we made as humans.

 Shioya Ryota will be doing his JCCB4 Residency program in ISBI, Bandung, August – September 2016.

Soe Yu Nwe (Myanmar, 1989)

Soe Yu Nwe

Berasal dari Myanmar, Soe Yu Nwe tinggal dan bekerja di Albion, Michigan, AS, sebagai perupa. Ia lulus pendidikan sarjana seni rupa dari Albion College, dan baru-baru ini lulus dari tingkat pascasarjana dalam keramik dari Rhode Island School of Design (RISD). Karya-karya Soe Yu utamanya berangkat dari pengalaman hidup lintas budaya yang dipunyainya, sebagai peranakan Tionghoa di Myanmar, yang pergi belajar dan menetap di Amerika. Persoalan identitas, maka menjadi direpresentasikan secara kuat olehnya, dan tampil sebagai entitas yang cair, rapuh, dan terfragmen. Olahan-olahan bentuk Soe Yu tampil sebagai gambaran pemandangan emosional, mempergunakan bagian-bagian elemen alam dan bagian tubuh sebagai perpanjangan cabang ekspresi ketajaman dan keperihan dalam fenomena tumbuh kembang yang termanusiakan.

Soe Yu Nwe terpilih melalui proses open call. Ia akan menjalankan program residensi JCCB4 di Arskala Studio, Yogyakarta, pada November 2016.

Born in Myanmar, Soe Yu Nwe currently lives and works as an artist in Albion, Michigan. She holds a BFA in Art from Albion College, and recently graduated MFA in Ceramics in Rhode Island School of Design (RISD). Yu Nwe’s works departs from her cross-cultural living experience; as a Chinese descent in Myanmar who went to study and stays in the US. As such, spectrums of identity becomes an issue resoundly represented in her works, seemingly portrayed as an entity of fluid, fragile, and fragmented qualities. The resulting works of Soe Yu comes to shape as a composition of emotional landscape, utilising depictions of nature elements and body parts as points of poignance through a phenomenon of growth in being human.

Soe Yu Nwe was chosen through open call for JCCB4 residency program. She will be doing her residency in Arskala Studio, Yogyakarta, November 2016.

Thomas Quayle (Australia)

Thomas Quayle

Quayle, berbasis di Australia, lulus dari National Art School Australia dengan spesialisasi keramik pada tahun 2013. Kekaryaan keramik Thomas Quayle hadir dalam olahan-olahan bentuk figuratif yang berwarna kemuda-mudaan, bersifat ekspresif selagi mengesankan rasa mentah. Bentuk ungkapan yang demikian berpadu dengan stilasi figur-figur itu sendiri yang nampak seolah terbiasakan, menjadi atau menemui, memproses keadaan untuk menjadi biasa. Dengan mimik dan bahasa tubuh yang menunggu, merenung, berpikir, dan merasa sejenak; figur-figur yang dibuat oleh Quayle datang menampilkan tangkapan momen jeda yang seakan telah memudar perlahan.

Partisipasi Thomas Quayle dalam program residensi JCCB4 adalah atas rekomendasi dari Vipoo Srivilasa (AUS). Ia akan menjalankan program residensi JCCB4 di Agung Ivan Studio, Bali, pada Agustus 2016.

Quayle graduated from the National Art School, Australia, with honors degree in ceramics in 2013. His works in ceramics mainly depicts figures, with a distinct pale colour pallette displaying a subdued expressiveness, complements a raw overall impression. Such an expression, coalesces with the halted gesture of the figures, seemingly between alternate courses, in being and encountering perhaps, looking to discern. With figures postured looking in wait, brooding, thinking, and seemingly experiencing a change of feel; Quayle’s works captures a certain juncture of interlude, which in itself emanating an inherent weathered disposition, fading and evaporating slowly.

Thomas Quayle’s participation in the JCCB4 residency program was on the recommendation of Vipoo Srivilasa (AUS). He will be doing his JCCB4 Residency program in Agung Ivan Studio, Bali, August 2016.

Uji “Hahan” Handoko (Magelang, 1983)

Hahan Uji Handoko

Mengakar dalam medan seni rupa kontemporer Indonesia, dan berbasis di Yogyakarta, Hahan dikenal luas lewat visual budaya dan budaya visual populer yang ia hadirkan dalam karya-karyanya. Melalui nukilan yang tampil sedemikian berselera wawasan global, Hahan juga menjelajahi dan melintasi jangkauan muatan dalam pada karyanya. Terutama pada karya-karyanya yang belakangan, ia menyebrangi lingkup konteks medan seni rupa sebagai muatan gagasan dan sasaran tematik, terutama mengenai sentralitas median distribusi dalam medan dan mekanisme seni rupa kontemporer Indonesia. Karakter-karakter dan tokoh-tokoh dalam penggambarannya seolah menjadi muncul dan mencuat, menanggapi konteks yang mengelilingi penciptaannya sendiri, untuk hadir dalam percampuran yang khas.

Hahan menjalankan program residensi JCCB4 di PT Sango Ceramics, Semarang, pada bulan September 2016.

Deeply rooted in the contemporary art world of Indonesia, the Yogyakarta-based Hahan is widely known through the use of popular visual culture found in his works. Through such rather global insights of artistic taste, Hahan also explores and traverses the boundaries on its inner basis of production. His latest works has shown cross of theme into the context of the art world, primarily on the centrality of the market and distribution means in Indonesia. The characters Hahan created then appears as if taking authority of themselves, making statements and reacting to the perceived deterministic context surrounding their own creation.

 Hahan will be doing his JCCB4 Residency program in PT Sango Ceramics, Semarang, September 2016.

 Wang Pei-Hsuan (Taiwan)

wangPeiShuang

Wang Pei-Hsuan merupakan perupa multidisiplin yang berbasis di Taiwan. Di antara riwayat kekaryaannya, Pei-Hsuan cenderung memiliki dorongan untuk membuat karya-karya yang membangun dialog, baik dengan bidang medium, ruang bernaungnya, hingga kepada konteks dan realitas sosiokultural yang mengelilingi tema dan penciptaan karyanya sendiri. Karya-karya Pei-Hsuan cenderung mengalur dengan menghadirkan sisipan-sisipan pendapat dan intervensi narasi pribadi yang khas. Muatan pesan yang dihadirkannya berasal dari lingkup ungkapan yang familiar, normatif, dan menjangkau, untuk kemudian digubah ke dalam komposisi, ruang, momen, atau suasana yang reflektif. Dengan menjadi hadir dalam relasi dengan realitas sosiokultural, karya-karya Pei-Hsuan bekerja untuk mengekstraknya sambil sekaligus mempertimbangkan keselerasan: yaitu keselerasan pesan yang dibagi di antara sekumpulan orang tempat tiap-tiap karya maupun proyeknya beroperasi. Di sini, ia menyentuh segi keuniversalan, selagi mencari narasi individual yang variatif dan mencerminkan kemungkinan abadi manusia untuk selalu mempercabangkan sikap dan keberadaannya sendiri

Wang Pei-Hsuan akan menjalankan program residensi JCCB4 di Jatiwangi Art Factory, pada November 2016.

Wang Pei-Hsuan is a multidisciplinary artist based in Taiwan. Through her body of work, lies a tendency in producing works or projects which builds dialogue, whether with the medium itself, the space it inhabits, all the way into within the context and the specific sociocultural reality surrounding the theme and grounds of production of her works. Pei-Hsuan’s works gives way to narrative twists, with implied personal ways of seeing working to transfrom the messages in her works into a reflexive state. Emulating expressions grounded in outreaching and normative familiarity, into compositions, spaces, moments, or situational settings. By existing through relations with the underlying sociocultural reality, her works assumes a function to extract from it, while also paying attention to relevant and resounding messages, shared among the people or the societal background she works with. Through such an approach, Pei-Hsuan recovers connection with universal aspects of human perception, while looking for varieties of individual narrations. Reflecting an everlasting possibility possessed by man to diverge his / her actions and representations as beings.

Wang Pei-Hsuan will be doing her JCCB4 Residency program in Jatiwangi Art Factory, November 2016.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s